Sunday, 21 December 2014

mm CURAH HUJAN


Kalau anda pernah sekolah setidaknya pasti tahu tentang siklus air, mulai dari evaporasi air permukaan dan dari dedaunan menjadi jadi awan lalu turun menjadi hujan jatuh ke air dan tanah, sebagian masuk ke tanah sebagian mengalir di permukaan (run off). Hujan yang turun bervariasi, kadang deras kadang gerimis, soal itu anak kecil pun tahu. Namun yang tidak semua orang tahu adalah mengukur besaran curah hujan, dan maksud dari satuan curah hujan.
Untuk mengukur curah hujan dapat dilakukan dengan menggunakan ombrometer, bukan combrometer lho. Alat ini biasanya bentuknya bulat diatas lalu terhubung dengan corong air masuk ke penampungan air dbawah. Curah hujan diukur setiap hari atau setiap minggu, atau setiap bulan, atau jam, terserah anda saja. Tapi pada umumnya setiap hari pada pukul 7 air dalam ombrometer ini dikeluarkan untuk kemudian di masukkan gelas ukur. Nah dari sini sudah ketahuan deh berapa curah hujan dalam satu hari kemarin (pukul 7 ke pukul 7), dalam satuan mm. Oya gelas ukurnya sendiri khusus, ya bukan gelas sembarangan, melainkan gelas ukur khusus curah hujan, kerena garis-garisnya sudah dalam mm, bukan cc atau ml.
Nah satuan mm sendiri bagi orang awam tidak mudah dipahami. Apa maksudnya? Bagi mahasiswa yang tidak titen (memperhatikan) pelajaran atau tidak tertarik saya yakin banyak yang tidak paham dengan ini. Dulu saya sangat penasaran apa maksudnya ”mm“ ini,  jika dikonversi menjadi liter bisa gak? Karena dulu saya sangat pengecut sehinggga tidak berani bertanya pada dosen, akhirnya hitung-hitung sendiri dan cari informasi tentang satuan mm ini untuk dikonversi ke liter. Saat saya kuliah, mbah google belum mencapai puncak popularitasnya, sehingga saya hanya mengandalkan buku saja. Dan ternyata jawabannya bisa dan sangat sederhana.

1 mm curah hujan = 1 liter air per meter2 satuan luas, artinya
Jika turun hujan misalnya 30 mm per hari, itu sama saja dengan 30 liter air yang dituang oleh gusti Allah SWT ke permukaan tanah seluas 1 m2. Jika anda punya tanah seluas 1 ha (10.000 m2) maka Tuhan yang Maha Pemurah telah menurunkan air sebanyak 300.000 liter pada tanah anda tersebut dalam satu hari. Jika truk tangki pertamina ukuran besar memuat sebanyak 32.000 liter, maka butuh hampir 10 tangki truk tersebut untuk membasahi lahan ada setara 30 mm tadi.
Pompa air dengan keluaran 3” mempunyai debit air rata-rata 1000 liter/menit. Dengan demikian untuk mendapatkan air setara 30 mm untuk lahan 1 ha maka pompa harus bekerja selama:
    300.000    =   300 menit = 5 jam non stop dengan kekuatan penuh.
      1000

Sekarang dari mana bisa diketahui bahwa 1 mm = 1 liter air per m2?
-       Berat jenis air = 1 kg/m3
-       1 m3  = 1000 mm (panjang) x 1000 mm (lebar) x 1000 mm (tinggi)
-       1 m3  = 1000 liter
-       Untuk memenuhi wadah sebesar itu, maka air yang harus diisi harus setinggi 1 m (1000 mm)
-       Setiap 1 liter air yang ditambahkan ke wadah akan mengisi permukaan wadah setinggi 1 mm, karena BJ air tadi yang 1 kg/m3. Lain lagi ceritanya jika yang diisikan adalah minyak.
-       Jadi dapat disimpulkan bahwa 1 mm tinggi air = 1 liter /m2

Nah itulah asal-usul konversi dari mm curah hujan ke liter per m2. Tentang detail ombrometer sendiri silahkan anda googling saja untuk mengetahui spesifikasi dan bentuknya. Membuatnya pun mudah, yang penting ukuran diameter lubang atasnya harus tepat dan diletakkan pada tempat yang semestinya (bebas naungan pada radius 10 m, kalau tidak salah). Saya harap anda mengerti penjelasan diatas..semoga bermanfaat dan barokah.

Wednesday, 5 November 2014

Mark Zuckerberg, Susi?

Hape Android saya yang hampir gak pernah jauh dari diri ini kembali berbunyi. Bunyinya menandakan ada sms atau WA masuk.BBM sudah saya hilangkan notifikasinya, terlalu banyak grup. "new kbh", grup WA keluarga bani hoedan yang muncul pesan baru. Dari bapakku ternyata. Waduh, isinya tentang joke politik lagi..
Suasana panas di medsos beberapa pekan lalu baru mulai mereda, termasuk juga di grup WA keluargaku. Ternyata pilpres kemarin dapat membagi keluargaku menjadi 3 kubu. Jokowi, Prabowo dan netral (walaupun cenderung ke Jokowi). Bully membully bergantian dengan berbagai gambar editan dan link-link ke media mainstream dan abal-abal. Setelah pemenang dinyatakan sah oleh MK pun, peperangan tetap berlanjut. Baru setelah pertemuan Jokowi-Prabowo, suasana rada adem.
Kali ini bapak, yang biasanya diam tiba-tiba memanaskan kembali suasana dengan copas joke tentang menteri "Kabinet Kerja" yang tatoan, roko'an dan DO-an. Mungkin niat bapak hanya guyon tapi reaksi lawan politik di kubu sebelah cukup keras. Sepupuku yang di Ostrali bilang "media sering lihat jeleknya tapi prestasinya tidak disorot", sepupu di jogja upload foto ratu Ntut eh Atut yang jilbaban, santun, gak roko'an tapi korupsi. Saya ingin membela bapak, tapi karena sudah terlalu jengah dengan "peperangan" ini saya diam saja. Keluarga kami sebenarnya sangat rukun, bahkan sangat sangat rukun. Tidak pernah ada bentakan di rumah simbah yang pernah saya dengar, terutama ditingkat putra putri simbah (angkatan ibuku), namun ditingkat cucu sifatnya sudah beda-beda, aplagi ada yang suka marah dan gak sabaran (kemungkinan besar saya salah satunya). Hampir semua muslim taat, walaupun dari berbagai aliran, Muhammadiyah, LDII dan IM. Yang disebut kedua terakhir adalah sempalan dari induknya yang pertama, karena awalya semua keluarga kami dari satu aliran.
Perbedaan terjadi dalam menyikapi sosok yang dijadikan joke oleh bapak saya, tak lain tak bukan adalah menteri perikanan, Susi, si nyentrik. Lagi-lagi keluarga saya terbelah, kubu satu entah apakah semata karena mendukung Jokowi sehingga Susi ini dengan segala kenyentrikannya itu (tatoan, roko'an dan DO-an) dibela abis. Sementara di kubu lain apakah semata karena kebencian terhadap sosok Jokowi sehingga si Susi dibully sedemikian rupa.
Walaupun keluarga saya berjilbab semua, tapi sebagian besar diantaranya mendukung Susi. Sebagian besar diantara yang berjilbab ini LDII. Sementara yang menolak Susi adalah pendukung IM (PKS). Walaupun jelas-jelas tatonya kelihatan dan klepas klepus mengebulkan asap rokok tapi tampaknya hal itu tidak jadi alasan untuk menolak Susi. Tampaknya mereka menggunakan dalil tentang menyerahkan segala urusan pada ahlinya.
إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ
فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (BUKHARI – 6015)

Mmmm, masuk akal juga sih. Mungkin karena pemikiran pragmatis, pokoknya yang penting tujuannya tercapai. Tapi, apa nggak ada orang sekaliber Susi yang derajat nyentriknya lebih rendah? Karena bagaimanapun juga dia akan jadi sorotan dan public figure. Semua aktivitasnya menjadi incaran wartawan. Kalau menurut pendapat saya sih, lebih baik cari yang kulitnya bebas tato, suaminya lebih sedikit dan non smoker. Wah enak aja saya ngomong ya, emangnya gampang nyari malaikat?? Yaaa pasti adalah, diantara ratusan juta orang Indonesia, masak hanya Susi satu thok itu doang. Tapi sebagai rakyat dengan pemimpin yang sudah terpilih ini, mau tidak mau ya harus mendukung Susi yang nyentrik ini. Katanya kan harus taat pada ulil amri minkum.

Kalau mendengar cerita orang yang baru pulang dari luar negeri, terutama dari negara yang sudah developed wah rata-rata pada terkagum kagum dengan kedisiplinannya, keramah tamahannya, saling menghargainya dan infrastrukturnya. Tapi hampir semua negara maju tersebut atau mungkin juga seluruhnya bukan negara dengan mayoritas penduduk muslim. Sebenarnya anggapan itu dengan mudah terpatahkan dengan catatan sejarah dimana muslim pernah menjadi penguasa dunia dalam hal teknologi dan peradaban pada masa lampau. Dan perlu diketahui juga bahwa walaupun mereka kini unggul hampir dalam semua aspek, contohnya dalam kesejahteraan, relasi sosial dan infrastruktur namun sebenarnya hal itu dapat dijelaskan oleh dalil berikut.

زُيِّنَ لِلَّذِيۡنَ كَفَرُوا الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَا وَيَسۡخَرُوۡنَ مِنَ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا ‌ ۘ وَالَّذِيۡنَ اتَّقَوۡا فَوۡقَهُمۡ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ ؕ وَاللّٰهُ يَرۡزُقُ مَنۡ يَّشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ‏ ﴿۲۱۲﴾  
212. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
Ya, memang Allah memberi rezeki enggak kira-kira, dan terserah semau gusti Allah. Tidak dibatasi siapa dia, agama apa dia, tak peduli baik apa jahat. Kalau anda perhatikan, orang-orang memang terlahir sesuai dengan kapasitasnya dan takdirnya. Saya membaca majalah detik dengan fokus tentang Susi. Memang sejarah hidup Susi mengantarkannya jadi seperti sekarang ini, dia tercipta dengan kapasitas untuk itu. Naturally. Kenapa ia harus lahir dari orang kaya terpandang di Pangandaran, kenapa ia menikah pertama dengan pedagang ikan, lalu menikah 2x dengan bule yang satunya dari dunia penerbangan? Ya itulah yang membentuk Susi jadi seperti sekarang ini.
Dahlan Iskan? Walaupun dulu katanya sangat miskin tapi sejarah hidupnya memang "diarahkan" menuju kesana. Tidak mungkin akan sekaya ini jika tidak bertemu dengan Jawa Pos. Siapa yang mengarahkan pak Dahlan supaya kerja di Jawa Pos? Manusia memang punya kuasa memilih percabangan takdirnya yang beragam, tapi manusia tidak tahu jalan mana yang akan membawanya ke titik yang sekarang ia capai. Manusia hanya bisa menduga akan takdirnya.
Mark Zuckerberg sangat kaya raya, sangat-sangat kaya, rejekinya tidak terbatas dan terbayangkan. Jalan Tuhan yang menuntunnya menciptakan facebook. Tuhan tidak memilih siapa yang mau diberi rezeki, siapa yang dilapangkan dan siapa yang disempitkan tidak bisa protes, sebagaimana seseorang yang dilahirkan normal dan seseorang lain yang dilahirkan cacat. Seseorang hanya bisa berusaha meraih takdir yang sebaik-baiknya (menurut ukuran mereka sendiri) dari segala macam kemungkinan takdir yang bisa terjadi. Menurut salah seorang guru saya, takdir itu seperti cabang pohon, ada banyak. "Kamu ambil keputusan ini, maka yang keluar adalah takdir itu, sementara jika kamu ambil keputusan yang lain maka yang keluar adalah takdir yang lain."
Kalau melihat dari sejarah hidupnya, tampaknya si Susi dari sisi keduniaannya memang diarahkan untuk jadi menteri Perikanan. Itu pasti seijin Allah SWT, sebagaimana Allah SWT juga mengizinkan terbunuhnya sekian ribu jiwa anak-anak dan wanita Palestina. Jadi, Susi ini kira-kira masuk surga apa tidak sih? Dilihat ciri-cirinya secara fisik kayaknya sih Susi bukan salah satunya. Tapi soal itu siapa yang tahu? Saya gak punya kapling di surga.




































Wednesday, 10 September 2014

Kucing Hitam di Fotografi Malam Hari

Kisah ini saya tulis berdasarkan pengalaman nyata saya dengan Nashwa ketika memotret malam hari di Bukit Pandak, Probolinggo. Ceritanya saya mempunyai hobi baru tapi lama yaitu fotografi. Baru, karena dipinjami kamera DSLR oleh bapak, Sony Aplha slt33. Kalau di internet bilangnya sih entry level-middle class DSLR. Rapopo wong cuma minjem. Lama, karena dari dulu seneng berfoto-foto, lha gimana wong putune mbah hudan. Berbagai teknik fotografi inginnya dicobain semua. Tapi krn masih nubie (pemula) ya trial dan error saja.
Nah pada malam itu saya pulang sholat isya di mesjid yg cuma 50 meteran dari rumah. Melihat langit kok cerah, tapi ada bulan separo. Muncul keinginan untuk memotret bintang, yg dituju adalah galaksi bimasakti atau kalo orang Inggris atau Australia menyebutnya milkyway. Di forum2 fotografi milkyway ini termasuk yg sering di bahas. Tinggal ketik, "how to capture milkyway" di google udah deh tinggal pilih aja mana yang mau dipelototi. Milkyway sendiri kl dilihat dengan mata telanjang (malu ah), atau mata yg tidak telanjang (pakai kacamata) agak sulit dilihat. Kalau tinggal di kota besar dijamin gak bakal kelihatan. Konon pernah ada seri film Ultraman, dimana ada anak kecil yang meminta pada sang jagoan untuk diperlihatkan sungai susu di langit, lalu Ultraman memadamkan listrik seluruh Tokyo sehingga seketika itu nampaklah jalur bintang beserta "awan" yg memanjang sangat indahnya. Saya waktu di Bandung dulu suka naik genteng kalau malam tapi belum pernah lihat namanya milkyway ini dan memang semumur hidup memang belum pernah lihat. Kalau masih asing dengan milkyway, ingat saja lirik lagu MLTR, "..the milkyway upon the heaven,  it's twinkling just for u..".
Nah malam itu saya putuskan untuk melihat dan memotret milkyway. Syaratnya adalah langit bersih tanpa awan, minim polusi cahaya (bisa dari lampu-lampu kota atau dari kehadiran bulan), dan posisi milkyway itu sendiri. Bisa jadi langit udah bersih dan gelap sempurna, tapi milkyway sedang berada di langit siang alias di belahan bumi yang lain, ya tak katengal (gak ketok, bhs madura).
Berhubung saya sudah beberapa bulan tidak pernah keluar malam hari ke tempat-tempat gelap sendirian (sudah tidak jadi sinder lagi), maka mau keluar malam kok ada perasaan ragu dengan kesendiriannya. Minta ditemenin. Maka Nashwa yang saat itu matanya masih terang benderang seperti bintang pun saya ajak untuk ikut. Setelah menyiapkan celurit, tripod dan kamera sekitar pukul 20.00 kami berangkat naik motor mio menuju Bukit Pandak yg jaraknya sekitar 5 km. Eits, sebentar, celurit? Ya tentu saja,  wong mau masuk perkebunan tebu yang tidak ada rumah penduduk ya harus berjaga-jaga terhadap gangguan penjahat dan hewan buas. Kl mahluk halus? Kan ada Nashwa, yang penting ada teman walaupun cuma anak kecil. Bukit Pandak sendiri terletak di sebelah timur, melewati jalan pantura sepanjang 3 km lalu belok ke selatan memasuki jalan berbatu sepanjang 2 km. Dari atas bukit ini jelas sekali terlihat laut jawa di bawahnya. Pemandangannya indah terutama bagi yg baru pertama ke sana. Kalau sudah sering ya jadi biasa. Memasuki jalan berbatu, motor mio menjadi tidak nyaman dinaiki. Motor megapro juga, tiger juga, harley pun juga. Pokoknya semua yang lewat sini merasa tidak nyaman deh. Sepanjang 2 km kami hanya satu kali berpapasan dengan sepeda motor lain. Sesampainya di kaki bukit, saya langsung belok menaiki bukit lewat jalan yg justru lebih halus daripada jalan di bawahnya. Di tengah2 antara kaki dan puncak bukit saya hentikan motor karena merasa tempat ini cukup nyaman dan aman. Segera saya menyiapkan peralatan memotret. Angin Probolinggo sedang gede gedenya. Kalau waktu SD agak pinter mungkin masih ingat pelajaran IPA tentang angin gending. Ya itulah angin yg sedang sy bicarakan. Angin bertiup dengan kencang dan kering, sehingga bunyinya cukup menyeramkan. Saya mendongak ke atas dan melihat bintang2 banyak bertaburan. Untuk melihat posisi milkyway saya pakai aplikasi skymap di hp android. Dengan mengarahkan hp dijamin pasti ketemu rasi bintang yg kita tuju. Setelah ketemu, kamera saya arahkan dan di setting sesuai tutorial di internet. "Pret", kamera membuka selama 30 detik. Hasilnya langit seperti siang. "Wah pasti ini gara2 bulan separo", pikir saya. Hasilnya overexposed. Lalu saya coba setting dengan speed yg lebih cepat. Hasilnya lebih gelap, tapi milkyway tidak tampak. Wah memang ini bukan hariku. Lalu saya ingin coba lagi dengan setting yang lain, tapi tiba-tiba dari atas bukit turun sebuah bayangan hitam kecil. Bayangan itu makin lama makin mendekat dan setelah mencapai jarak pandang yg cukup terlihatlah bahwa sosok itu adalah kucing hitam. Kucing itu diam saja sekitar 7 meter dari tempat kami duduk. Saya yg agak kaget pura2 tidak kaget. Saya bilang ke Nashwa, "tuh ada kucing". Nashwa bilang, "o iya yah". Tidak ada nada ketakutan. Sy yang pernah membaca kalau jin bisa nyaru jadi kucing hitam yang merasa agak takut. Cuma agak saja. Karena belum yakin kalau itu jin apa manusia, eh kucing.
Sy baca2 ayat kursi saja, lalu kucing itu masuk ke semak2 di sebelah kanan kami. Wujudnya gak kelihatan tapi suaranya meong-meong terus. Daripada perasaan kurang enak terus lalu saya pun mengajak Nashwa pulang. Sekedar tahu saja, di puncak bukit Pandak itu terdapat makam kuno.
Demikian akhir cerita ini.

Monday, 24 September 2012

PUASANYA ORANG KEBUN


Seperti halnya bulan-bulan Ramadhan sebelumnya, puasa tahun 2012 ini saya jalani seperti biasa. Biasa disini artinya berpuasa tidak makan dan minum dan “melakukan yang itu”. Namun dalam puasa beberapa tahun terakhir, terutama sejak bekerja di Pabrik Gula (PG), kualitas ibadah tambahan saya rasa menurun dibandingkan saat “muda” dulu. Hal ini tentu bukan suatu hal yang patut dibanggakan.
Sebenarnya ada beberapa pendukung dari penurunan kualitas ibadah ini, yaitu jarang kumpul dengan teman-teman yang “alim”, tidak ada lawan tanding seperti saat masih kuliah dulu, dan juga karena terbawa dengan suasana kerja di kebun. Dulu saat di Bandung atau Jogja saat masih bersama-sama keluarga selalu ada yang mengingatkan, sekarang pun ada, istri, namun karena posisinya yang ikut suami, sehingga kekuatan “peringatan” nya tidak sekuat Ibu atau Bapak. Seharusnya sebagai suami justru saya yang mengingatkan. Mengecewakan.
Di kalangan karyawan PG bagian tanaman, khususnya yang di lapangan, antara yang berpuasa dan tidak sepertinya “sebelas- dua belas”, hampir sama. Yang mengesankan, kuli-kuli tebu ternyata banyak yang berpuasa, terutama kuli-kuli perempuan, dan pekerja perawatan tebu yang bekerja setengah hari (pukul 06.00 – 11.00). Namun ada juga pekerja tebu yang mayoritas tidak berpuasa, yaitu penebang tebu. Mereka tidak berpuasa karena sifat pekerjaannya yang memang sangat berat. Dari pagi sampai sore menebang tebu yang gatal dan mengangkutnya ke atas truk/lori.
Pada tahun ini jam kerja PG saat bulan puasa diubah. Masuk kerja pukul 08.00 dari sebelumnya pukul 06.30. Sedangkan pulang pukul 15.00 seperti biasa. Jam istirahat dipersingkat setengah jam dari sebelumnya satu jam. Total ada selisih 1 jam kerja hilang. Untuk karyawan bagian tanaman yang di lapangan, aturan itu tidak ada artinya karena justru pekerja kebun terutama yang borongan lebih senang bekerja lebih pagi dan pulang lebih awal, untuk menghindari panas matahari yang dapat membuat dahaga. Saya pribadi merasa jam kerja kantor masuk pukul 08.00 untuk daerah timur pulau Jawa ini sudah terlalu siang. Administrasi lebih terhambat. Ada beberapa karyawan kantor yang berkomentar, “masuk jam delapan malah bingung pak, di rumah mau ngapain.” Maka mereka mendahului jam kerja resmi. Namun selalu ada + dan -, pro dan kontra. Ada juga karyawan yang masuk diatas jam 08.00.
Karyawan PG bagian tanaman yang tidak berpuasa ada yang terang-terangan namun lebih banyak yang sembunyi-sembunyi. Memang kebiasaan ke warung bagi orang kebun adalah ibarat bis dan terminal. Rumah singgah bagi orang kebun ya warung. Istirahatnya orang kebun ya ngopi dan jagongan di warung. Sering pula warung menjadi tempat rapat informal namun efektif, dan sebagai sumber informasi yang berkaitan dengan kebun, contohnya areal, tenaga kerja, pengairan, dan informasi yang tidak berkaitan dengan kebun seperti rondo ayu dan sejenisnya. Rutinitas yang mengasyikkan selama sebelas bulan ini susah dihentikan bagi sebagian orang kebun. 11 : 1.
Saya pun beberapa tahun terakhir saat akan memasuki Ramadhan ada pikiran, “saya belum latihan puasa sama sekali sebelas bulan ini, apa sanggup puasa ya?” Tapi nyatanya saat puasa tiba tetap saja bisa dijalani dan ternyata tidak berat-berat amat. Jika haus merongrong, alihkan pikiran saja ke kuli-kuli yang puasa itu, tentu lebih berat. Namun ada satu hal yang saya sukai saat bulan puasa datang, udara sangat segar di kantor dan ruang rapat tebangan. Bebas asap rokok.

Sunday, 18 March 2012

CONSOLATION PRICE

Hari Sabtu, 17 Maret 2012, mungkin menjadi salah satu hari terindah bagi saya. Betapa tidak pada hari itu saya mendapat penghargaan nilai ujian matrikulasi terbaik. Saya dan sekitar 60 orang karyawan perusahaan kami memang sedang berstatus mahasiswa pasca sarjana di UA (Universitas Airlangga), jurusan Magister Sains Manajemen.

Mug & Buku Secangkir Wedang Hangat
Pada hari itu saya dan salah satu mahasiswi dari kelas regular mendapat cinderamata berupa mug dan buku berjudul “Secangkir Wedang Hangat”, karangan pak Gancar, dosen marketing UA. Sebenarnya yang membuat istimewa bukan sekedar mug dan buku-nya tapi lebih dalam lagi, penghargaan itu membangkitkan kembali harga dan kepercayaan diri saya yang hampir tenggelam.

Penghargaan di depan seluruh mahasiswa jurusan MSM itu sangat berkesan. Mungkin ini adalah semacam consolation price untuk saya setelah setahun lebih tidak ada pencapaian yang membanggakan di dunia kerja, selalu saja tersalah.

Saya sendiri tidak merasa penghargaan itu atas hasil belajar yang keras, karena memang saya merasa belajar biasa saja, hanya sekedar mengulang slide yang di kelas. Namun memang saya tidak pernah berniat untuk membolos, dan saat kuliah saya tidak mau mengantuk, bukan apa-apa, tapi karena bayarnya mahal. Rasanya rugi kalau sampai meninggalkan kelas atau tidak memperhatikan, karena jika dihitung satu kali pertemuan membayar sekitar Rp500ribu. Asumsinya total biaya kuliah Rp40juta dibagi jumlah pertemuan yang kurang lebih 80 kali saja (2 tahun). Nominal itu bukan jumlah yang kecil bagi seorang sinder golongan IIIB.

Saya rasa hal ini telah diatur oleh Allah SWT, dengan faktor pendukung pertama, do’a dari mBah putri yang sedang umroh, beliau mendo’akan anak cucunya yang sedang susah dan alhamdulillah dikabulkan. Salma sepupu saya di UGM yang penghasilan orangtuanya terbatas, mendapat beasiswa, Mas Hasto paman saya yang juga belum punya penghasilan tetap, mobil dagangannya Ford Laser 95 laku dan saya sendiri mendapat hadiah hiburan ini. Yang kedua mungkin karena Allah kasihan pada saya yang selalu saja menjadi bahan olok-olok pada saat rapat selama setahun terakhir, dimudahkan saat ujian sehingga jawaban saya yang meragukan (setengah mengarang) ternyata tepat!

Saya teringat kisah Nabi Muhammad sewaktu beliau berdakwah di Thaif. Bukannya sambutan dan penerimaan yang didapat, justru cacian, makian dan lemparan batu dari penduduk Thaif yang diperoleh. Beliau saat itu meninggalkan Thaif dengan sedih dan beristirahat di sebuah kebun anggur dan berdo’a, “Ya Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan ? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku ? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan.“ Lalu Allah memberi nabi Muhammad semacam penawar (hiburan) dengan datangnya budak suruhan pemilik kebun yang bernama Addas yang memberi anggur dan setelah berdialog dengan nabi, budak itu masuk islam dan mencium kedua tangan dan kaki beliau setelah sebelumnya mendapat umpatan dan makian permusuhan. Memang sangat tidak relevan dan jauh sekali membandingkan hadiah hiburan saya dengan nabi, tapi setidaknya cerita ini melekat kuat di benak saya bahwa nabi pun diberi penawar oleh Allah dengan adanya penerimaan dan pengakuan yang baik setelah penolakan dan cacian. Apalagi orang seperti saya, tentu memerlukan hal-hal seperti itu.

Yang jelas ini baru permulaan kuliah, hanya sekedar matrikulasi. Ujian sebenarnya masih 2 tahun lagi. Semoga saya tidak terlena dan tetap focus. Amin.

Monday, 20 February 2012

BOS MARAH

TULISAN BERIKUT INI TIDAK DITULIS OLEH SAYA, ini adalah email dari bude Ninik, kakak dari Ibu saya, beliau mantan karyawan BRI. Email ini dikirim karena beliau peduli pada saya yang sedang "bermasalah" dengan atasan. Berikut adalah tulisannya yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja.

BOS MARAH
Bude pernah punya pengalaman mendampingi Direktur Utama BRI menghadap Bapak Menteri Keuangan (Bp Mari’e Muhammad). Waktu itu ada masalah, Kredit Usaha Tani (KUT) pola khusus yakni KUT langsung kepada kelompok tani tidak melalui koperasi, belum bisa di cairkan. Dalam sidang kabinet, Presiden (waktu itu Pak Harto) mengatakan bahwa KUT Pola khusus belum bisa cair karena BRI belum membuat petunjuk pelaksanaan yang menjadi pedoman Kantor Cabang BRI. Mendengar hal tersebut, Pak Menteri langsung memanggil Dirut BRI bersama Pejabat Bank Indonesia, Pejabat Dep Koperasi, Pejabat Dep Pertanian. Dirut BRI dimarahi oleh Menkeu karena di nilai tidak mendukung program pemerintah. Pak Menteri bicaranya keras tidak putus-putus (nyerocos), yang intinya nggoblog-nggobolgin Dirut BRI. Melihat hal tersebut Bude jadi takut, kawatir Pak Dirut ganti memarahi Bude setelah kembali ke kantor nanti.

Ternyata, Dirut BRI tidak marah ke Bude, hanya memberikan petunjuk agar segera membuat surat ke Cabang-Cabang BRI tentang tata cara pelayanan KUT Pola Khusus. Besok pagi harus sudah di kirim. Bude hanya meng-iya-kan saja, sehingga Pak Dirut malah bertanya : kamu kenapa kok diam saja? Saya jawab kalau sebenarnya saya khawatir ganti di marahi.. Pak Dirut malah terus bercerita, bahwa sebenarnya waktu Pak Menteri marah tadi Pak Dirut juga takut dan malu. Dalam kondisi tersebut, katanya beliau hanya ber zikir menyebut nama Alloh serta mohon petunjuk apa yang harus di lakukan. Waktu Pak Menteri marah semua diam saja, namun ketika marahnya sudah agak mereda, nada suaranya yang semula tinggi sudah agak turun, Pak Dirut langsung matur meminta maaf atas hal-hal yang membuat Pak Menteri marah dan langsung matur juga bahwa demi pelayanan kepada Petani, akan segera membuat petunjuk kepada Kantor Cabang BRI. Pak Dirut juga mohon agar instansi lain juga siap melaksanakan. Pak Menteri langsung tanya, memangnya ada apa? Barulah Pak Dirut mengatakan yang sesungguhnya bahwa belum di buatnya Petunjuk ke Cabang BRI karena ada surat Menteri Pertanian yang menyatakan KUT Pola Khusus baru di mulai pada musim hujan (bulan Oktober, saat itu baru bulan Juni).

Ada lagi kisah lain, yakni pada waktu Bude masih bekerja di Kantor Pusat BRI, pernah di marahi oleh salah satu Direktur. Gara-garanya, BRI di denda oleh Bank Indonesia karena dalam menyalurkan kredit kepada Petani Tebu di nilai tidak benar, yaitu tidak langsung kepada petani melainkan melalui PTP. Dendanya lumayan besar, kira-kira Rp.20 milyar. Karena Bude yang menangani Kredit kepada Petani Tebu, maka Bapak Direktur memanggil Bude dan Bude di goblog-goblogin mengapa bisa terjadi seperti itu. Laporan tertulis kepada Pak Direktur di disposisi : Mengapa bisa terjadi seperti ini, mengapa kalian goblog blog blog blog… Pertanggung jawabkan. Begitu bunyi disposisinya. Untungnya Bude pernah punya pengalaman mendampingi Direktur Utama BRI menghadap Bapak Menteri Keuangan. Jadi sambil berzikir, Bude menghadap Bapak Direktur. Ketika beliau mengata ngatain Bude goblok, rasanya kok tidak takut ya, malah setelah itu Bude bercanda bilang begini : Pak, karena saya goblog, maka saya mohon petunjuk Bapak, sebaiknya saya harus bagaimana? Pak Direktur njawab sambil masih menggoblog kan Bude : Nah sudah mengaku goblog kan? Sekarang berfikir apa yang harus di lakukan, jangan hanya tanya saya…. Dalam hati Bude bilang, tapi dalam hati, kayanya Bapak juga tidak tahu harus bagaimana.. Akhirnya Bude menyampaikan bahwa Bude akan membuktikan kalau BRI tidak salah, besok melapor lagi ke Pak Direktur. Akhirnya Pak Direktur yakin kalau BRI tidak salah dan membantu Bude menyampaikan ke BI bahwa prosedur tersebut sudah benar, memang kredit Tebu Rakyat harus lewat PTP…. Horeeeee BRI menang, dendanya di kembalikan.

Itu tadi cerita tentang di marahi Bos, ternyata siapapun dia, apapun posisinya, di marahi Bos itu umum terjadi. Pesan Bude, kalau Dik Basith di marahi Bos, istighfar saja.. Semoga Alloh memberikan kemampuan untuk menahan diri dan diberi kesempatan memperbaiki kesalahan ataupun menunjukkan bahwa dik Basith tidak salah. Ayo terus semangat…

Coba tanya Manung, pernah gak di marahi Bos? Manung pernah cerita ke Bude bahwa di marahi Bos tuh harus kuat, tidak perlu berkecil hati. Tapi untuk jelasnya, tanya sendiri ke manung aja ya…

Tulisan ini Bude buat atas permintaan Yang Uti, katanya Yang Uti sedih kalau ingat Basith sedih waktu di marahi Bos, Bos nya Basith itu kok keterlaluan.. Terus Bude bilang kalau Bos marah itu sebenarnya sudah biasa, anak buah harus siap di marahi.. Ngendikane Yang Uti : Opo yo ngono? Nek ngono Basith kandanono…. Gitu Dik latar belakang tulisan ini, semoga ada manfaatnya untuk menunjang karir Dik Basith.
Yogyakarta, 3 Februari 2012

BAHTSUL MASAIL KUBRO GULA MANIS

5 Februari 2012 adalah suatu hari yang istimewa bagi saya. Betapa tidak, bertemu meneg BUMN Dahlan Iskan secara langsung. Sebelumnya video-video ceramah, sambutan pak DI sudah saya unduh dari youtube, semua artikel "Manufacturing Hope"-nya sudah saya baca. Memang inspiratif. Sebelum jadi menteri BUMN saya sering membaca artikelnya di Jawa Pos.

Kami 10 orang berangkat dari Jember hari sabtu, 4 Februari 2012 pukul 12.30 wib. Jalan macet, ambil alternatif lewat selatan, Banyubiru-Pasuruan, keluar sebelum Bangil. Kondisi jalannya sempit dan ramai, jadi kalau dihitung-hitung tetap saja waktu tempuhnya lama. Sampai Gempol karena takut macet masuk alternatif lagi lewat tol lama, keluar Tanggulangin. Sopir PG, pak Surono bisa beristirahat karena hampir sepanjang jalan saya yang mengemudi. Daripada jadi penumpang saya lebih senang nyetir, kaki tidak pegal, tapi syaratnya mobil nyaman dan saya sedang tidak capek. Kebetulan mobil yang dibawa adalah mobil dinas pak kepala AKU, New Panther 2.5L, jika naik mobil dinas umum PG Kijang 90 saya memilih jadi penumpang saja. Kami sampai Surabaya sekitar pukul 19.00 wib.

Kami menginap di hotel Country Residence, kalau tidak salah, yang jelas ada kata Country-nya. Hotelnya bagus, bintang 3. Pak KTR Imam Fauzi dan pak sinder Hari jadi satu kamar. Saya dan 7 orang lainnya, jadi satu di apartemen. Di apartemen ada 4 kamar tidur, 3 kamar mandi, 1 dapur dan 1 ruang duduk. Masing-masing kamar untuk 2 orang. Saya dan masinis Kafi memilih kamar di tingkat 2. Ternyata kamar itu paling bagus, ada TV, AC dan bathub. Desain apartemennya simple, compact tapi fungsional.

Semua peserta saat check in dapat kupon makan. Ada yang langsung makan tapi kebanyakan mandi dulu. Pakai bathub, air panas, capek-capek hilang, serasa wong sugih. Ruangan makan menjadi tempat berkumpul peserta-peserta dari seluruh PG perusahaan kami. Saya bertemu pak Barnas, bekas teman sinder yang sekarang jadi KTR di Situbondo. Beliau tetap sama, selalu wangi. Dulu waktu masih bujangan saya sering diajak makan malam di rumah pak Barnas ini, sampai-sampai saya malu. Semua peserta ngobrol kesana-kemari, sebagian membahas tentang seragam kaos bergambar pocong di kebun tebu yang dibagikan panitia. Banyak yang berkomentar, "opo maksud'e?".

Setelah makan inginnya bersantai sejenak. Saya kembali ke apartemen, ternyata di ruang duduk masinis Brian dan kemiker Doni sedang sibuk mencetak file presentasi pak ADM yang dipersiapkan jika PG kami harus tampil. Karena tidak enak hati, saya temani mereka dulu. Di sana juga ada sinder Hari yang juga sibuk merevisi buku panduan budidaya tebu "single bud". Ada kesalahan di analisa laba-ruginya. Setelah beberapa lama saya naik ke kamar, rencananya mau internet-an. Bude Ninik dari Jogja dari tadi siang sudah meminta supaya saya mengecek email, ada yang perlu dibaca, kata beliau.

Tidak lama browsing, masinis Kafi datang, bersiap menjilid presentasi yang sedang diprint di bawah. Karena Kafi arek Suroboyo, tentu paham tukang jilid yang masih buka diatas jam 10 malam. Benar, ternyata ia sudah janjian jam 23.30 wib dengan tukang jilid di pasar karangmenjangan, dekat UNAIR. Saya diajak menemani Kafi, sekalian mengantarnya pulang ke rumah. Anak bojo-nya pasti sudah kangen.

Saya turun kembali ke bawah setelah mengecek email bude yang ternyata belum masuk. Sambil menunggu print, kami menonton televisi dari luar negeri, film mandarin yang sangat lucu. Sekitar pukul 23.30 saya dan Kafi berangkat naik mobil PG. Menjilid buku sambil cuci mata dan membelikan mie goreng untuk kemiker Adit. Rencananya Kafi akan saya antar pulang setelah ke tukang jilid. Tapi karena takut saya kesasar, Kafi meminta supaya dijemput oleh keluarganya saja di tukang jilid.

Ternyata menjilid cukup lama, pukul 01.15 wib saya baru meninggalkan tempat. Petunjuk yang diberikan Kafi cukup membantu saya kembali ke Hotel, walaupun sempat nyasar satu kali. Sampai hotel, sinder Hari masih sibuk menempelkan revisi. Tinggal ia sendiri, yang lain sudah lelap tidur. Kemiker Adit yang pesan mie sudah tidur. Mie lalu saya letakkan di samping kepalanya. Saya kembali ke kamar, tapi tidak bisa tidur. Nonton TV sampai jam 02.30 wib. Rencananya saya ingin shalat tahajud, supaya besok pagi bisa lancar menyampaikan pendapat ke pak Menteri. Ya, saya sangat ingin menyampaikan suatu permasalahan utama di perusahaan kami pada pak Menteri BUMN. Mudah-mudahan ada kesempatan. Tapi tahajud katanya harus tidur dulu, sedangkan saya belum tidur dari tadi, jadi tidak jadi. Malam itu saya benar-benar mimpi diwawancara oleh pak Dahlan, bergiliran satu per satu semua peserta dari PG..

-----
Kemiker Adit, masinis Brian dan Agus TUK chek out
Keesokan hari, saya telat bangun, hampir jam 6 wib. Untung saja dibangunkan oleh Kafi yang baru datang dari rumahnya. Belum shalat subuh. Wah, awal yang kurang baik untuk hari ini. Segera mandi dan sarapan. Informasinya jam 06.30 wib kami harus sudah berangkat ke Empire Palace, tempat acara dilangsungkan. Menu sarapannya lontong dan opor ayam, ada juga bubur ayam, minumnya sari buah, kopi dan teh (standar hotel). Tidak lama kemudian kami sudah chek out.

Perjalanan dari hotel di daerah Nginden ke Empire Palace sekitar 20 menit. Di sepanjang jalan banyak orang bersepeda. Ada sepeda fixie, banyak juga sepeda gunung. Tampaknya bersepeda sedang menjadi gaya hidup baru masyarakat Surabaya. Sampai di Empire Palace sudah ramai oleh peserta. Bus-bus besar berplat nomor E parkir di depan gedung. Di lambung bus tertulis "SAHABAT", sebuah nama perusahaan bus yang terasa familiar. Maklum sering papasan waktu kuliah dulu. Cirebon-Bandung, lewat kampus UNPAD Jatinangor.

Semua orang menggunakan kaos bergambar pocong. Wajah-wajah penuh dengan antusiasme. Semua orang naik ke lantai atas (lupa lantai berapa) menggunakan lift. Gedung Empire Palace ini didesain mewah, bergaya romawi kuno, penuh ukir-ukiran. Detail cukup diperhatikan oleh arsiteknya.


Di lantai tempat pertemuan, peserta antri untuk absen. Di urut Per Perusahaan per PG. Di tempat absen ada pemandangan menarik. Resepsionisnya sangat cantik, tinggi, mirip boneka barbie, tidak cuma satu tapi banyak. Maklum orang desa, jarang ketemu yang kayak gini.

Antri absen, sayang resepsionis tidak kefoto

Masuk ke ruang pertemuan ternyata tempat duduk diacak. PG kami diapit oleh PG dari wilayah Jawa Tengah dan DIY. Sebelah kiri PG Madukismo, sebelah kanan PG Jatibarang. Awalnya kami tidak tahu maksud pengacakan tempat duduk ini, sampai ditengah acara pak Menteri bilang pengacakan ini bertujuan agar antar PG bersilaturahim, bertukar informasi. PG yang kaya disandingkan dengan PG dhuafa. Istilah pak Menteri, PG dhuafa, membuat peserta tertawa geli. Sepertinya PG kami dianggap kaya karena disebelah kami PG Jatibarang.

Masinis Kafi berdampingan dengan peserta dari PG Jatibarang
Pak Menteri datang disambut tepuk tangan meriah para peserta. Beliau tidak banyak basa-basi, langsung memakai kaos pocong didepan panggung, sekali lagi diberi tepuk tangan meriah, dan membuka acara tanpa protokoler. Terlihat beliau mengutak-atik laptop sendiri di depan. Lalu ditampilkan di layar. Isinya permasalahan-permasalahan di Pabrik Gula (bisa dilihat di gambar).

Kelihatannya pak Menteri mengetik sendiri dan terburu-buru, tulisannya tidak rapi, tidak ada spasi. Mungkin karena sifat beliau yang pragmatis, yang penting maksudnya kena, bisa dimengerti semua orang.

Ada 20 masalah di Pabrik Gula. Peserta ada yang mencoba usul untuk menambahkan poin masalah, tapi pak Menteri tidak mau, beliau ingin fokus pada 20 masalah ini saja. Kelihatan bahwa beliau sebenarnya sudah tahu permasalahan Pabrik Gula, sebelumnya pasti ada informasi yang masuk ke beliau.

Peserta boleh usul apa saja, tapi kalau usulan tersebut sifatnya meminta tolong pada pemerintah, pak Menteri tidak suka langsung dibantah saat itu juga. Contohnya ADM salah satu PG di Situbondo mengusulkan agar profit sharing investor-petani diseragamkan, dan pemerintah menjadi investornya, langsung dijawab, "Tidak, pemerintah tidak mau ikut campur masalah sharing, itu kebijakan direksi masing-masing" (kurang lebih dijawab seperti itu, tidak sama persis). Ada juga ADM dari perusahaan kami yang usul supaya pemerintah memfasilitasi konversi lahan HGU untuk ditanami tebu, yang langsung dijawab oleh pak Menteri, "Tidak mau, tidak mau, tidak mau, saya disuruh ngomong ke Menteri Kehutanan minta lahan gitu? Kalau perlu bapak tidur di depan ruangan Menteri Kehutanan, minta lahan itu".

Walaupun jawaban pak Menteri menolak, tapi bahasa tubuhnya yang santai tidak membuat si pengusul jadi tersinggung. Malahan peserta gerr saat pak Menteri bilang "tidak mau, tidak mau, tidak mau", sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Itu salah satu kelebihan pak Menteri.

Hal lain yang ditampilkan adalah contoh-contoh PG yang sukses dan PG yang menderita. ADM PG yang sukses diminta naik ke panggung bercerita kiat-kiat kesuksesan mereka. PG-PG yang sukses didominasi oleh perusahaan gula tertentu. Demikian pula dengan PG-PG yang menderita disuruh bercerita tentang sebab-sebab penderitaannya. Ternyata PG-PG yang menderita juga didominasi oleh perusahaan gula tertentu.

Demikian terus, bergantian dibahas contoh-contoh lain baik kesuksesan maupun penderitaan. Kebetulan PG kami mendapat nama baik karena dua orang kepala bagian (Instalasi dan Pabrikasi) dianggap sangat kompak, sehingga meningkatkan kinerja. Pak Fajar dan Pak Iwan nama dua orang tersebut, sampai-sampai nama Pak Fajar ditulis sebagai judul dalam artikel Dahlan Iskan di Jawa Pos keesokan harinya.

Satu hal juga yang saya ingat kata-kata pak Menteri adalah contoh orang baik. Beliau mencontohkan seseorang yang memiliki integritas baik belum tentu bisa bekerja dengan baik. Saat di PLN beliau menemukan orang yang sangat jujur, bahkan jika ditanya ke seluruh karyawan PLN siapa orang yang paling baik di PLN pasti semua menunjuk ke sana. Setelah jadi Direktur (kalau tidak salah) orang ini masih naik angkutan umum. Pak Menteri menyebut orang jenis ini seperti mau masuk surga sendiri, karena biasanya orang seperti ini merasa paling jujur di lingkungannya sehingga tidak bisa bekerja sama dengan yang lain. Kaku. Saya pikir ada benarnya juga, sekali lagi ada benarnya bukan benar total.

Di akhir acara pak Menteri meminta 10 orang karyawan muda berprestasi (?) dibawah 35 tahun dari tiap PG untuk berdiri. Lalu beliau pesan agar peluang bagi karyawan muda untuk meniti karir agar dipermudah, jangan dipersulit jika memang mereka mampu. Saya bersyukur dipilih menjadi salah satu dari 10 orang itu, walaupun kenyataannya mungkin belum seperti itu. Malu ah.

Akhirnya sekitar jam 12.30 wib acara ditutup dan semua peserta di persilahkan makan siang ditempat yang telah disediakan. Rombongan kami memutuskan tidak makan siang di situ. Hanya sinder Hari dan KTR Imam yang makan di sana, dan mereka ternyata beruntung, bisa bersalaman dengan pak Menteri.

Kami turun ke bawah dengan lift yang berbeda, kali ini sangat besar, belum pernah saya naik lift sebesar itu. Kelihatannya lift bisa menampung sampai 50 orang sekali angkut. Di dalam lift ada kepala tanaman dari PG tertentu yang guyon dengan rekan prianya, tapi saya pikir guyonnya kurang sopan. "Barang" rekannya mau di lihat, celana rekannya mau dibuka karena terlihat "berdiri" setelah si rekan melihat resepsionis, sesaat sebelum naik lift. Mereka tertawa cekakakan tidak berhenti-berhenti. Tapi sebenarnya "barang" saya sendiri juga mau berdiri, tapi berhasil saya kendalikan sehingga tidak jadi.

ADM PG kami mengajak makan di sebuah restoran di daerah Gubeng. Restorannya tidak terlalu besar, tapi sangat mahal untuk ukuran saya. Bayangkan, segelas kecil es kopyor Rp25.000,-. Kalau dibelikan pecel kan bisa untuk 6 kali makan. Menunya luar biasa, ada kepiting, iga rebus, tongseng, ca kangkung, pokoknya mewah banget menurut saya.

Sekitar pukul 15.30 kami meninggalkan Surabaya untuk kembali ke Jember. Saya biarkan pak Surono mengemudi dulu, nanti di Probolinggo akan saya ganti. Tidak lupa saya membawa sepotong coklat untuk anak saya Nashwa dan sepenggal cerita untuk istri saya.