Tuesday, 6 October 2015

UJI STATISTIK PENILAIAN MUTU TEBU SECARA VISUAL TERHADAP RENDEMEN TEBU

Tebu yang akan digiling di Pabrik Gula harus memenuhi syarat tebu layak giling. Apa itu syaratnya?
  1. Manis. Tebu memang manis, tapi tingkat kemanisannya berbeda-beda. Dikatakan telah layak giling apabila tebu telah masak ditandai dengan perbedaan kemanisan batang bagian bawah dan atas yang makin kecil. Pada tebu muda batang bawah jauh lebih manis daripada batang atas. Makin tua makin kecil selisihnya, sehingga seluruh batang tebu manis merata.
  2. Bersih. Tebu yang akan digiling harus bersih. Bukan berarti tebu itu harus dilap, digosok seperti akik, melainkan tebu itu harus tebu, apa maksudnya?! Bagian tebu yang layak giling adalah batangnya, lebih pasnya batang tuanya. Daun tebu yang masih hijau, daun tebu yang sudah kering, tanah, akar, dan tebu anakan yang masih muda tidak diharapkan ikut digiling. Selain tidak/sangat sedikit mengandung gula, bagian-bagian itu mengganggu proses.
  3. Segar. Segar maksudnya harus segera digiling sesegera mungkin setelah ditebang dari kebun. Biasanya kurang dari 36 jam masih dikatakan segar. Semakin lama tebu tidak digiling maka kandungan gula dalam batang tebu akan semakin menurun.
Slogan MBS ini selalu ditekankan oleh pimpinan Pabrik Gula pada bawahannya (bagian tanaman) dan petani pemasok. Yang paling berpengaruh terhadap perolehan gula terutama adalah MANIS-nya, sementara bersih dan segar adalah upaya menekan agar potensi MANIS-nya itu terjaga sampai digiling. Semua syarat tebu digiling adalah mutlak dipenuhi (secara teori), namun pada kenyataannya tidak semudah yang dibicarakan. Nah, tulisan ini ingin membahas tentang pengaruh penilaian keBERSIHan tebu secara visual oleh petugas QC dan pengaruhnya terhadap rendemen. Untuk melawan argumen "pokoknya" harus dengan data ilmiah, maka tulisan ini harus seilmiah mungkin. Karena bukan skripsi, tesis atau sejenisya, maka seilmiah-ilmiahnya masih dibawah tulisan-tulisan sejenis itu, yang penting bisa dipahami oleh para pembaca dan dapat dijadikan referensi (tapi jangan buat daftar pustaka di skripsi anda ya! Diketawain dosen nanti).

Silahkan download .pdf lengkapnya..

https://drive.google.com/file/d/0B5GEH5G_1ZzhVHBEYnZzbWROX3M/view?usp=sharing

Sunday, 21 December 2014

mm CURAH HUJAN


Kalau anda pernah sekolah setidaknya pasti tahu tentang siklus air, mulai dari evaporasi air permukaan dan dari dedaunan menjadi jadi awan lalu turun menjadi hujan jatuh ke air dan tanah, sebagian masuk ke tanah sebagian mengalir di permukaan (run off). Hujan yang turun bervariasi, kadang deras kadang gerimis, soal itu anak kecil pun tahu. Namun yang tidak semua orang tahu adalah mengukur besaran curah hujan, dan maksud dari satuan curah hujan.
Untuk mengukur curah hujan dapat dilakukan dengan menggunakan ombrometer, bukan combrometer lho. Alat ini biasanya bentuknya bulat diatas lalu terhubung dengan corong air masuk ke penampungan air dbawah. Curah hujan diukur setiap hari atau setiap minggu, atau setiap bulan, atau jam, terserah anda saja. Tapi pada umumnya setiap hari pada pukul 7 air dalam ombrometer ini dikeluarkan untuk kemudian di masukkan gelas ukur. Nah dari sini sudah ketahuan deh berapa curah hujan dalam satu hari kemarin (pukul 7 ke pukul 7), dalam satuan mm. Oya gelas ukurnya sendiri khusus, ya bukan gelas sembarangan, melainkan gelas ukur khusus curah hujan, kerena garis-garisnya sudah dalam mm, bukan cc atau ml.
Nah satuan mm sendiri bagi orang awam tidak mudah dipahami. Apa maksudnya? Bagi mahasiswa yang tidak titen (memperhatikan) pelajaran atau tidak tertarik saya yakin banyak yang tidak paham dengan ini. Dulu saya sangat penasaran apa maksudnya ”mm“ ini,  jika dikonversi menjadi liter bisa gak? Karena dulu saya sangat pengecut sehinggga tidak berani bertanya pada dosen, akhirnya hitung-hitung sendiri dan cari informasi tentang satuan mm ini untuk dikonversi ke liter. Saat saya kuliah, mbah google belum mencapai puncak popularitasnya, sehingga saya hanya mengandalkan buku saja. Dan ternyata jawabannya bisa dan sangat sederhana.

1 mm curah hujan = 1 liter air per meter2 satuan luas, artinya
Jika turun hujan misalnya 30 mm per hari, itu sama saja dengan 30 liter air yang dituang oleh gusti Allah SWT ke permukaan tanah seluas 1 m2. Jika anda punya tanah seluas 1 ha (10.000 m2) maka Tuhan yang Maha Pemurah telah menurunkan air sebanyak 300.000 liter pada tanah anda tersebut dalam satu hari. Jika truk tangki pertamina ukuran besar memuat sebanyak 32.000 liter, maka butuh hampir 10 tangki truk tersebut untuk membasahi lahan ada setara 30 mm tadi.
Pompa air dengan keluaran 3” mempunyai debit air rata-rata 1000 liter/menit. Dengan demikian untuk mendapatkan air setara 30 mm untuk lahan 1 ha maka pompa harus bekerja selama:
    300.000    =   300 menit = 5 jam non stop dengan kekuatan penuh.
      1000

Sekarang dari mana bisa diketahui bahwa 1 mm = 1 liter air per m2?
-       Berat jenis air = 1 kg/m3
-       1 m3  = 1000 mm (panjang) x 1000 mm (lebar) x 1000 mm (tinggi)
-       1 m3  = 1000 liter
-       Untuk memenuhi wadah sebesar itu, maka air yang harus diisi harus setinggi 1 m (1000 mm)
-       Setiap 1 liter air yang ditambahkan ke wadah akan mengisi permukaan wadah setinggi 1 mm, karena BJ air tadi yang 1 kg/m3. Lain lagi ceritanya jika yang diisikan adalah minyak.
-       Jadi dapat disimpulkan bahwa 1 mm tinggi air = 1 liter /m2

Nah itulah asal-usul konversi dari mm curah hujan ke liter per m2. Tentang detail ombrometer sendiri silahkan anda googling saja untuk mengetahui spesifikasi dan bentuknya. Membuatnya pun mudah, yang penting ukuran diameter lubang atasnya harus tepat dan diletakkan pada tempat yang semestinya (bebas naungan pada radius 10 m, kalau tidak salah). Saya harap anda mengerti penjelasan diatas..semoga bermanfaat dan barokah.

Wednesday, 5 November 2014

Mark Zuckerberg, Susi?

Hape Android saya yang hampir gak pernah jauh dari diri ini kembali berbunyi. Bunyinya menandakan ada sms atau WA masuk.BBM sudah saya hilangkan notifikasinya, terlalu banyak grup. "new kbh", grup WA keluarga bani hoedan yang muncul pesan baru. Dari bapakku ternyata. Waduh, isinya tentang joke politik lagi..
Suasana panas di medsos beberapa pekan lalu baru mulai mereda, termasuk juga di grup WA keluargaku. Ternyata pilpres kemarin dapat membagi keluargaku menjadi 3 kubu. Jokowi, Prabowo dan netral (walaupun cenderung ke Jokowi). Bully membully bergantian dengan berbagai gambar editan dan link-link ke media mainstream dan abal-abal. Setelah pemenang dinyatakan sah oleh MK pun, peperangan tetap berlanjut. Baru setelah pertemuan Jokowi-Prabowo, suasana rada adem.
Kali ini bapak, yang biasanya diam tiba-tiba memanaskan kembali suasana dengan copas joke tentang menteri "Kabinet Kerja" yang tatoan, roko'an dan DO-an. Mungkin niat bapak hanya guyon tapi reaksi lawan politik di kubu sebelah cukup keras. Sepupuku yang di Ostrali bilang "media sering lihat jeleknya tapi prestasinya tidak disorot", sepupu di jogja upload foto ratu Ntut eh Atut yang jilbaban, santun, gak roko'an tapi korupsi. Saya ingin membela bapak, tapi karena sudah terlalu jengah dengan "peperangan" ini saya diam saja. Keluarga kami sebenarnya sangat rukun, bahkan sangat sangat rukun. Tidak pernah ada bentakan di rumah simbah yang pernah saya dengar, terutama ditingkat putra putri simbah (angkatan ibuku), namun ditingkat cucu sifatnya sudah beda-beda, aplagi ada yang suka marah dan gak sabaran (kemungkinan besar saya salah satunya). Hampir semua muslim taat, walaupun dari berbagai aliran, Muhammadiyah, LDII dan IM. Yang disebut kedua terakhir adalah sempalan dari induknya yang pertama, karena awalya semua keluarga kami dari satu aliran.
Perbedaan terjadi dalam menyikapi sosok yang dijadikan joke oleh bapak saya, tak lain tak bukan adalah menteri perikanan, Susi, si nyentrik. Lagi-lagi keluarga saya terbelah, kubu satu entah apakah semata karena mendukung Jokowi sehingga Susi ini dengan segala kenyentrikannya itu (tatoan, roko'an dan DO-an) dibela abis. Sementara di kubu lain apakah semata karena kebencian terhadap sosok Jokowi sehingga si Susi dibully sedemikian rupa.
Walaupun keluarga saya berjilbab semua, tapi sebagian besar diantaranya mendukung Susi. Sebagian besar diantara yang berjilbab ini LDII. Sementara yang menolak Susi adalah pendukung IM (PKS). Walaupun jelas-jelas tatonya kelihatan dan klepas klepus mengebulkan asap rokok tapi tampaknya hal itu tidak jadi alasan untuk menolak Susi. Tampaknya mereka menggunakan dalil tentang menyerahkan segala urusan pada ahlinya.
إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ
فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (BUKHARI – 6015)

Mmmm, masuk akal juga sih. Mungkin karena pemikiran pragmatis, pokoknya yang penting tujuannya tercapai. Tapi, apa nggak ada orang sekaliber Susi yang derajat nyentriknya lebih rendah? Karena bagaimanapun juga dia akan jadi sorotan dan public figure. Semua aktivitasnya menjadi incaran wartawan. Kalau menurut pendapat saya sih, lebih baik cari yang kulitnya bebas tato, suaminya lebih sedikit dan non smoker. Wah enak aja saya ngomong ya, emangnya gampang nyari malaikat?? Yaaa pasti adalah, diantara ratusan juta orang Indonesia, masak hanya Susi satu thok itu doang. Tapi sebagai rakyat dengan pemimpin yang sudah terpilih ini, mau tidak mau ya harus mendukung Susi yang nyentrik ini. Katanya kan harus taat pada ulil amri minkum.

Kalau mendengar cerita orang yang baru pulang dari luar negeri, terutama dari negara yang sudah developed wah rata-rata pada terkagum kagum dengan kedisiplinannya, keramah tamahannya, saling menghargainya dan infrastrukturnya. Tapi hampir semua negara maju tersebut atau mungkin juga seluruhnya bukan negara dengan mayoritas penduduk muslim. Sebenarnya anggapan itu dengan mudah terpatahkan dengan catatan sejarah dimana muslim pernah menjadi penguasa dunia dalam hal teknologi dan peradaban pada masa lampau. Dan perlu diketahui juga bahwa walaupun mereka kini unggul hampir dalam semua aspek, contohnya dalam kesejahteraan, relasi sosial dan infrastruktur namun sebenarnya hal itu dapat dijelaskan oleh dalil berikut.

زُيِّنَ لِلَّذِيۡنَ كَفَرُوا الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَا وَيَسۡخَرُوۡنَ مِنَ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا ‌ ۘ وَالَّذِيۡنَ اتَّقَوۡا فَوۡقَهُمۡ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ ؕ وَاللّٰهُ يَرۡزُقُ مَنۡ يَّشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ‏ ﴿۲۱۲﴾  
212. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
Ya, memang Allah memberi rezeki enggak kira-kira, dan terserah semau gusti Allah. Tidak dibatasi siapa dia, agama apa dia, tak peduli baik apa jahat. Kalau anda perhatikan, orang-orang memang terlahir sesuai dengan kapasitasnya dan takdirnya. Saya membaca majalah detik dengan fokus tentang Susi. Memang sejarah hidup Susi mengantarkannya jadi seperti sekarang ini, dia tercipta dengan kapasitas untuk itu. Naturally. Kenapa ia harus lahir dari orang kaya terpandang di Pangandaran, kenapa ia menikah pertama dengan pedagang ikan, lalu menikah 2x dengan bule yang satunya dari dunia penerbangan? Ya itulah yang membentuk Susi jadi seperti sekarang ini.
Dahlan Iskan? Walaupun dulu katanya sangat miskin tapi sejarah hidupnya memang "diarahkan" menuju kesana. Tidak mungkin akan sekaya ini jika tidak bertemu dengan Jawa Pos. Siapa yang mengarahkan pak Dahlan supaya kerja di Jawa Pos? Manusia memang punya kuasa memilih percabangan takdirnya yang beragam, tapi manusia tidak tahu jalan mana yang akan membawanya ke titik yang sekarang ia capai. Manusia hanya bisa menduga akan takdirnya.
Mark Zuckerberg sangat kaya raya, sangat-sangat kaya, rejekinya tidak terbatas dan terbayangkan. Jalan Tuhan yang menuntunnya menciptakan facebook. Tuhan tidak memilih siapa yang mau diberi rezeki, siapa yang dilapangkan dan siapa yang disempitkan tidak bisa protes, sebagaimana seseorang yang dilahirkan normal dan seseorang lain yang dilahirkan cacat. Seseorang hanya bisa berusaha meraih takdir yang sebaik-baiknya (menurut ukuran mereka sendiri) dari segala macam kemungkinan takdir yang bisa terjadi. Menurut salah seorang guru saya, takdir itu seperti cabang pohon, ada banyak. "Kamu ambil keputusan ini, maka yang keluar adalah takdir itu, sementara jika kamu ambil keputusan yang lain maka yang keluar adalah takdir yang lain."
Kalau melihat dari sejarah hidupnya, tampaknya si Susi dari sisi keduniaannya memang diarahkan untuk jadi menteri Perikanan. Itu pasti seijin Allah SWT, sebagaimana Allah SWT juga mengizinkan terbunuhnya sekian ribu jiwa anak-anak dan wanita Palestina. Jadi, Susi ini kira-kira masuk surga apa tidak sih? Dilihat ciri-cirinya secara fisik kayaknya sih Susi bukan salah satunya. Tapi soal itu siapa yang tahu? Saya gak punya kapling di surga.




































Wednesday, 10 September 2014

Kucing Hitam di Fotografi Malam Hari

Kisah ini saya tulis berdasarkan pengalaman nyata saya dengan Nashwa ketika memotret malam hari di Bukit Pandak, Probolinggo. Ceritanya saya mempunyai hobi baru tapi lama yaitu fotografi. Baru, karena dipinjami kamera DSLR oleh bapak, Sony Aplha slt33. Kalau di internet bilangnya sih entry level-middle class DSLR. Rapopo wong cuma minjem. Lama, karena dari dulu seneng berfoto-foto, lha gimana wong putune mbah hudan. Berbagai teknik fotografi inginnya dicobain semua. Tapi krn masih nubie (pemula) ya trial dan error saja.
Nah pada malam itu saya pulang sholat isya di mesjid yg cuma 50 meteran dari rumah. Melihat langit kok cerah, tapi ada bulan separo. Muncul keinginan untuk memotret bintang, yg dituju adalah galaksi bimasakti atau kalo orang Inggris atau Australia menyebutnya milkyway. Di forum2 fotografi milkyway ini termasuk yg sering di bahas. Tinggal ketik, "how to capture milkyway" di google udah deh tinggal pilih aja mana yang mau dipelototi. Milkyway sendiri kl dilihat dengan mata telanjang (malu ah), atau mata yg tidak telanjang (pakai kacamata) agak sulit dilihat. Kalau tinggal di kota besar dijamin gak bakal kelihatan. Konon pernah ada seri film Ultraman, dimana ada anak kecil yang meminta pada sang jagoan untuk diperlihatkan sungai susu di langit, lalu Ultraman memadamkan listrik seluruh Tokyo sehingga seketika itu nampaklah jalur bintang beserta "awan" yg memanjang sangat indahnya. Saya waktu di Bandung dulu suka naik genteng kalau malam tapi belum pernah lihat namanya milkyway ini dan memang semumur hidup memang belum pernah lihat. Kalau masih asing dengan milkyway, ingat saja lirik lagu MLTR, "..the milkyway upon the heaven,  it's twinkling just for u..".
Nah malam itu saya putuskan untuk melihat dan memotret milkyway. Syaratnya adalah langit bersih tanpa awan, minim polusi cahaya (bisa dari lampu-lampu kota atau dari kehadiran bulan), dan posisi milkyway itu sendiri. Bisa jadi langit udah bersih dan gelap sempurna, tapi milkyway sedang berada di langit siang alias di belahan bumi yang lain, ya tak katengal (gak ketok, bhs madura).
Berhubung saya sudah beberapa bulan tidak pernah keluar malam hari ke tempat-tempat gelap sendirian (sudah tidak jadi sinder lagi), maka mau keluar malam kok ada perasaan ragu dengan kesendiriannya. Minta ditemenin. Maka Nashwa yang saat itu matanya masih terang benderang seperti bintang pun saya ajak untuk ikut. Setelah menyiapkan celurit, tripod dan kamera sekitar pukul 20.00 kami berangkat naik motor mio menuju Bukit Pandak yg jaraknya sekitar 5 km. Eits, sebentar, celurit? Ya tentu saja,  wong mau masuk perkebunan tebu yang tidak ada rumah penduduk ya harus berjaga-jaga terhadap gangguan penjahat dan hewan buas. Kl mahluk halus? Kan ada Nashwa, yang penting ada teman walaupun cuma anak kecil. Bukit Pandak sendiri terletak di sebelah timur, melewati jalan pantura sepanjang 3 km lalu belok ke selatan memasuki jalan berbatu sepanjang 2 km. Dari atas bukit ini jelas sekali terlihat laut jawa di bawahnya. Pemandangannya indah terutama bagi yg baru pertama ke sana. Kalau sudah sering ya jadi biasa. Memasuki jalan berbatu, motor mio menjadi tidak nyaman dinaiki. Motor megapro juga, tiger juga, harley pun juga. Pokoknya semua yang lewat sini merasa tidak nyaman deh. Sepanjang 2 km kami hanya satu kali berpapasan dengan sepeda motor lain. Sesampainya di kaki bukit, saya langsung belok menaiki bukit lewat jalan yg justru lebih halus daripada jalan di bawahnya. Di tengah2 antara kaki dan puncak bukit saya hentikan motor karena merasa tempat ini cukup nyaman dan aman. Segera saya menyiapkan peralatan memotret. Angin Probolinggo sedang gede gedenya. Kalau waktu SD agak pinter mungkin masih ingat pelajaran IPA tentang angin gending. Ya itulah angin yg sedang sy bicarakan. Angin bertiup dengan kencang dan kering, sehingga bunyinya cukup menyeramkan. Saya mendongak ke atas dan melihat bintang2 banyak bertaburan. Untuk melihat posisi milkyway saya pakai aplikasi skymap di hp android. Dengan mengarahkan hp dijamin pasti ketemu rasi bintang yg kita tuju. Setelah ketemu, kamera saya arahkan dan di setting sesuai tutorial di internet. "Pret", kamera membuka selama 30 detik. Hasilnya langit seperti siang. "Wah pasti ini gara2 bulan separo", pikir saya. Hasilnya overexposed. Lalu saya coba setting dengan speed yg lebih cepat. Hasilnya lebih gelap, tapi milkyway tidak tampak. Wah memang ini bukan hariku. Lalu saya ingin coba lagi dengan setting yang lain, tapi tiba-tiba dari atas bukit turun sebuah bayangan hitam kecil. Bayangan itu makin lama makin mendekat dan setelah mencapai jarak pandang yg cukup terlihatlah bahwa sosok itu adalah kucing hitam. Kucing itu diam saja sekitar 7 meter dari tempat kami duduk. Saya yg agak kaget pura2 tidak kaget. Saya bilang ke Nashwa, "tuh ada kucing". Nashwa bilang, "o iya yah". Tidak ada nada ketakutan. Sy yang pernah membaca kalau jin bisa nyaru jadi kucing hitam yang merasa agak takut. Cuma agak saja. Karena belum yakin kalau itu jin apa manusia, eh kucing.
Sy baca2 ayat kursi saja, lalu kucing itu masuk ke semak2 di sebelah kanan kami. Wujudnya gak kelihatan tapi suaranya meong-meong terus. Daripada perasaan kurang enak terus lalu saya pun mengajak Nashwa pulang. Sekedar tahu saja, di puncak bukit Pandak itu terdapat makam kuno.
Demikian akhir cerita ini.

Monday, 24 September 2012

PUASANYA ORANG KEBUN


Seperti halnya bulan-bulan Ramadhan sebelumnya, puasa tahun 2012 ini saya jalani seperti biasa. Biasa disini artinya berpuasa tidak makan dan minum dan “melakukan yang itu”. Namun dalam puasa beberapa tahun terakhir, terutama sejak bekerja di Pabrik Gula (PG), kualitas ibadah tambahan saya rasa menurun dibandingkan saat “muda” dulu. Hal ini tentu bukan suatu hal yang patut dibanggakan.
Sebenarnya ada beberapa pendukung dari penurunan kualitas ibadah ini, yaitu jarang kumpul dengan teman-teman yang “alim”, tidak ada lawan tanding seperti saat masih kuliah dulu, dan juga karena terbawa dengan suasana kerja di kebun. Dulu saat di Bandung atau Jogja saat masih bersama-sama keluarga selalu ada yang mengingatkan, sekarang pun ada, istri, namun karena posisinya yang ikut suami, sehingga kekuatan “peringatan” nya tidak sekuat Ibu atau Bapak. Seharusnya sebagai suami justru saya yang mengingatkan. Mengecewakan.
Di kalangan karyawan PG bagian tanaman, khususnya yang di lapangan, antara yang berpuasa dan tidak sepertinya “sebelas- dua belas”, hampir sama. Yang mengesankan, kuli-kuli tebu ternyata banyak yang berpuasa, terutama kuli-kuli perempuan, dan pekerja perawatan tebu yang bekerja setengah hari (pukul 06.00 – 11.00). Namun ada juga pekerja tebu yang mayoritas tidak berpuasa, yaitu penebang tebu. Mereka tidak berpuasa karena sifat pekerjaannya yang memang sangat berat. Dari pagi sampai sore menebang tebu yang gatal dan mengangkutnya ke atas truk/lori.
Pada tahun ini jam kerja PG saat bulan puasa diubah. Masuk kerja pukul 08.00 dari sebelumnya pukul 06.30. Sedangkan pulang pukul 15.00 seperti biasa. Jam istirahat dipersingkat setengah jam dari sebelumnya satu jam. Total ada selisih 1 jam kerja hilang. Untuk karyawan bagian tanaman yang di lapangan, aturan itu tidak ada artinya karena justru pekerja kebun terutama yang borongan lebih senang bekerja lebih pagi dan pulang lebih awal, untuk menghindari panas matahari yang dapat membuat dahaga. Saya pribadi merasa jam kerja kantor masuk pukul 08.00 untuk daerah timur pulau Jawa ini sudah terlalu siang. Administrasi lebih terhambat. Ada beberapa karyawan kantor yang berkomentar, “masuk jam delapan malah bingung pak, di rumah mau ngapain.” Maka mereka mendahului jam kerja resmi. Namun selalu ada + dan -, pro dan kontra. Ada juga karyawan yang masuk diatas jam 08.00.
Karyawan PG bagian tanaman yang tidak berpuasa ada yang terang-terangan namun lebih banyak yang sembunyi-sembunyi. Memang kebiasaan ke warung bagi orang kebun adalah ibarat bis dan terminal. Rumah singgah bagi orang kebun ya warung. Istirahatnya orang kebun ya ngopi dan jagongan di warung. Sering pula warung menjadi tempat rapat informal namun efektif, dan sebagai sumber informasi yang berkaitan dengan kebun, contohnya areal, tenaga kerja, pengairan, dan informasi yang tidak berkaitan dengan kebun seperti rondo ayu dan sejenisnya. Rutinitas yang mengasyikkan selama sebelas bulan ini susah dihentikan bagi sebagian orang kebun. 11 : 1.
Saya pun beberapa tahun terakhir saat akan memasuki Ramadhan ada pikiran, “saya belum latihan puasa sama sekali sebelas bulan ini, apa sanggup puasa ya?” Tapi nyatanya saat puasa tiba tetap saja bisa dijalani dan ternyata tidak berat-berat amat. Jika haus merongrong, alihkan pikiran saja ke kuli-kuli yang puasa itu, tentu lebih berat. Namun ada satu hal yang saya sukai saat bulan puasa datang, udara sangat segar di kantor dan ruang rapat tebangan. Bebas asap rokok.

Sunday, 18 March 2012

CONSOLATION PRICE

Hari Sabtu, 17 Maret 2012, mungkin menjadi salah satu hari terindah bagi saya. Betapa tidak pada hari itu saya mendapat penghargaan nilai ujian matrikulasi terbaik. Saya dan sekitar 60 orang karyawan perusahaan kami memang sedang berstatus mahasiswa pasca sarjana di UA (Universitas Airlangga), jurusan Magister Sains Manajemen.

Mug & Buku Secangkir Wedang Hangat
Pada hari itu saya dan salah satu mahasiswi dari kelas regular mendapat cinderamata berupa mug dan buku berjudul “Secangkir Wedang Hangat”, karangan pak Gancar, dosen marketing UA. Sebenarnya yang membuat istimewa bukan sekedar mug dan buku-nya tapi lebih dalam lagi, penghargaan itu membangkitkan kembali harga dan kepercayaan diri saya yang hampir tenggelam.

Penghargaan di depan seluruh mahasiswa jurusan MSM itu sangat berkesan. Mungkin ini adalah semacam consolation price untuk saya setelah setahun lebih tidak ada pencapaian yang membanggakan di dunia kerja, selalu saja tersalah.

Saya sendiri tidak merasa penghargaan itu atas hasil belajar yang keras, karena memang saya merasa belajar biasa saja, hanya sekedar mengulang slide yang di kelas. Namun memang saya tidak pernah berniat untuk membolos, dan saat kuliah saya tidak mau mengantuk, bukan apa-apa, tapi karena bayarnya mahal. Rasanya rugi kalau sampai meninggalkan kelas atau tidak memperhatikan, karena jika dihitung satu kali pertemuan membayar sekitar Rp500ribu. Asumsinya total biaya kuliah Rp40juta dibagi jumlah pertemuan yang kurang lebih 80 kali saja (2 tahun). Nominal itu bukan jumlah yang kecil bagi seorang sinder golongan IIIB.

Saya rasa hal ini telah diatur oleh Allah SWT, dengan faktor pendukung pertama, do’a dari mBah putri yang sedang umroh, beliau mendo’akan anak cucunya yang sedang susah dan alhamdulillah dikabulkan. Salma sepupu saya di UGM yang penghasilan orangtuanya terbatas, mendapat beasiswa, Mas Hasto paman saya yang juga belum punya penghasilan tetap, mobil dagangannya Ford Laser 95 laku dan saya sendiri mendapat hadiah hiburan ini. Yang kedua mungkin karena Allah kasihan pada saya yang selalu saja menjadi bahan olok-olok pada saat rapat selama setahun terakhir, dimudahkan saat ujian sehingga jawaban saya yang meragukan (setengah mengarang) ternyata tepat!

Saya teringat kisah Nabi Muhammad sewaktu beliau berdakwah di Thaif. Bukannya sambutan dan penerimaan yang didapat, justru cacian, makian dan lemparan batu dari penduduk Thaif yang diperoleh. Beliau saat itu meninggalkan Thaif dengan sedih dan beristirahat di sebuah kebun anggur dan berdo’a, “Ya Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan ? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku ? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan.“ Lalu Allah memberi nabi Muhammad semacam penawar (hiburan) dengan datangnya budak suruhan pemilik kebun yang bernama Addas yang memberi anggur dan setelah berdialog dengan nabi, budak itu masuk islam dan mencium kedua tangan dan kaki beliau setelah sebelumnya mendapat umpatan dan makian permusuhan. Memang sangat tidak relevan dan jauh sekali membandingkan hadiah hiburan saya dengan nabi, tapi setidaknya cerita ini melekat kuat di benak saya bahwa nabi pun diberi penawar oleh Allah dengan adanya penerimaan dan pengakuan yang baik setelah penolakan dan cacian. Apalagi orang seperti saya, tentu memerlukan hal-hal seperti itu.

Yang jelas ini baru permulaan kuliah, hanya sekedar matrikulasi. Ujian sebenarnya masih 2 tahun lagi. Semoga saya tidak terlena dan tetap focus. Amin.

Monday, 20 February 2012

BOS MARAH

TULISAN BERIKUT INI TIDAK DITULIS OLEH SAYA, ini adalah email dari bude Ninik, kakak dari Ibu saya, beliau mantan karyawan BRI. Email ini dikirim karena beliau peduli pada saya yang sedang "bermasalah" dengan atasan. Berikut adalah tulisannya yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja.

BOS MARAH
Bude pernah punya pengalaman mendampingi Direktur Utama BRI menghadap Bapak Menteri Keuangan (Bp Mari’e Muhammad). Waktu itu ada masalah, Kredit Usaha Tani (KUT) pola khusus yakni KUT langsung kepada kelompok tani tidak melalui koperasi, belum bisa di cairkan. Dalam sidang kabinet, Presiden (waktu itu Pak Harto) mengatakan bahwa KUT Pola khusus belum bisa cair karena BRI belum membuat petunjuk pelaksanaan yang menjadi pedoman Kantor Cabang BRI. Mendengar hal tersebut, Pak Menteri langsung memanggil Dirut BRI bersama Pejabat Bank Indonesia, Pejabat Dep Koperasi, Pejabat Dep Pertanian. Dirut BRI dimarahi oleh Menkeu karena di nilai tidak mendukung program pemerintah. Pak Menteri bicaranya keras tidak putus-putus (nyerocos), yang intinya nggoblog-nggobolgin Dirut BRI. Melihat hal tersebut Bude jadi takut, kawatir Pak Dirut ganti memarahi Bude setelah kembali ke kantor nanti.

Ternyata, Dirut BRI tidak marah ke Bude, hanya memberikan petunjuk agar segera membuat surat ke Cabang-Cabang BRI tentang tata cara pelayanan KUT Pola Khusus. Besok pagi harus sudah di kirim. Bude hanya meng-iya-kan saja, sehingga Pak Dirut malah bertanya : kamu kenapa kok diam saja? Saya jawab kalau sebenarnya saya khawatir ganti di marahi.. Pak Dirut malah terus bercerita, bahwa sebenarnya waktu Pak Menteri marah tadi Pak Dirut juga takut dan malu. Dalam kondisi tersebut, katanya beliau hanya ber zikir menyebut nama Alloh serta mohon petunjuk apa yang harus di lakukan. Waktu Pak Menteri marah semua diam saja, namun ketika marahnya sudah agak mereda, nada suaranya yang semula tinggi sudah agak turun, Pak Dirut langsung matur meminta maaf atas hal-hal yang membuat Pak Menteri marah dan langsung matur juga bahwa demi pelayanan kepada Petani, akan segera membuat petunjuk kepada Kantor Cabang BRI. Pak Dirut juga mohon agar instansi lain juga siap melaksanakan. Pak Menteri langsung tanya, memangnya ada apa? Barulah Pak Dirut mengatakan yang sesungguhnya bahwa belum di buatnya Petunjuk ke Cabang BRI karena ada surat Menteri Pertanian yang menyatakan KUT Pola Khusus baru di mulai pada musim hujan (bulan Oktober, saat itu baru bulan Juni).

Ada lagi kisah lain, yakni pada waktu Bude masih bekerja di Kantor Pusat BRI, pernah di marahi oleh salah satu Direktur. Gara-garanya, BRI di denda oleh Bank Indonesia karena dalam menyalurkan kredit kepada Petani Tebu di nilai tidak benar, yaitu tidak langsung kepada petani melainkan melalui PTP. Dendanya lumayan besar, kira-kira Rp.20 milyar. Karena Bude yang menangani Kredit kepada Petani Tebu, maka Bapak Direktur memanggil Bude dan Bude di goblog-goblogin mengapa bisa terjadi seperti itu. Laporan tertulis kepada Pak Direktur di disposisi : Mengapa bisa terjadi seperti ini, mengapa kalian goblog blog blog blog… Pertanggung jawabkan. Begitu bunyi disposisinya. Untungnya Bude pernah punya pengalaman mendampingi Direktur Utama BRI menghadap Bapak Menteri Keuangan. Jadi sambil berzikir, Bude menghadap Bapak Direktur. Ketika beliau mengata ngatain Bude goblok, rasanya kok tidak takut ya, malah setelah itu Bude bercanda bilang begini : Pak, karena saya goblog, maka saya mohon petunjuk Bapak, sebaiknya saya harus bagaimana? Pak Direktur njawab sambil masih menggoblog kan Bude : Nah sudah mengaku goblog kan? Sekarang berfikir apa yang harus di lakukan, jangan hanya tanya saya…. Dalam hati Bude bilang, tapi dalam hati, kayanya Bapak juga tidak tahu harus bagaimana.. Akhirnya Bude menyampaikan bahwa Bude akan membuktikan kalau BRI tidak salah, besok melapor lagi ke Pak Direktur. Akhirnya Pak Direktur yakin kalau BRI tidak salah dan membantu Bude menyampaikan ke BI bahwa prosedur tersebut sudah benar, memang kredit Tebu Rakyat harus lewat PTP…. Horeeeee BRI menang, dendanya di kembalikan.

Itu tadi cerita tentang di marahi Bos, ternyata siapapun dia, apapun posisinya, di marahi Bos itu umum terjadi. Pesan Bude, kalau Dik Basith di marahi Bos, istighfar saja.. Semoga Alloh memberikan kemampuan untuk menahan diri dan diberi kesempatan memperbaiki kesalahan ataupun menunjukkan bahwa dik Basith tidak salah. Ayo terus semangat…

Coba tanya Manung, pernah gak di marahi Bos? Manung pernah cerita ke Bude bahwa di marahi Bos tuh harus kuat, tidak perlu berkecil hati. Tapi untuk jelasnya, tanya sendiri ke manung aja ya…

Tulisan ini Bude buat atas permintaan Yang Uti, katanya Yang Uti sedih kalau ingat Basith sedih waktu di marahi Bos, Bos nya Basith itu kok keterlaluan.. Terus Bude bilang kalau Bos marah itu sebenarnya sudah biasa, anak buah harus siap di marahi.. Ngendikane Yang Uti : Opo yo ngono? Nek ngono Basith kandanono…. Gitu Dik latar belakang tulisan ini, semoga ada manfaatnya untuk menunjang karir Dik Basith.
Yogyakarta, 3 Februari 2012