Thursday, 6 December 2018

JIHAD DI JALAN ALLAH ATAU JIHAD DI JALAN THAMRIN DAN MONAS?

Sabtu siang 1 Desember 2018 pukul 11an saya masih berada di Tulungagung, tilik bayi rekan kerja yang melahirkan. Kami semobil 5 orang terdiri dari manajer dan teman-teman satu bagian. Sebenarnya tadi pagi, walaupun masih belum yakin benar, saya sudah menyampaikan ke manajer bahwa saya nanti siang ingin ke Jakarta, tapi beliau menimpali, "trus yang nyetir ke rumah Mita nanti siapa?" Karena kadung nyanggupi ikut acara tilik bayi jadi saya harus berangkat ke acara itu, apalagi kalau tidak ikut maka acara otomatis bubar karena tidak ada yang (mau) nyopir. Intinya saya harus jadi sopir hari itu.

Setelah disuguh ayam lodho khas Tulungagung kami pamit pulang. Dalam perjalanan pulang sempat ketemu bis Harapan Jaya rute Blitar - Jakarta, dalam hati terbersit, "mungkinkah saya nutut naik bis ini kalau nanti bisa sampai duluan di Madiun?" Tapi pikiran itu dengan mudah tertepis, "gak mungkin". Sebelum masuk kota Ponorogo, ibu bos mengingatkan untuk mampir di warung dawet jabung "mbak Dwi" yang sedang viral di bagian kami. Teman-teman satu bagian suka membicarakan tentang warung ini bukan karena dawetnya tapi lebih karena bakulnya, mbak Dwi, yang "diatas rata-rata" bakul lain banyak yang sudah lansia. Sambil menyeruput dawet salah satu teman sempat bertanya, "jadi ke Jakarta pak?" saya jawab singkat, "gak nutut mas".

Sampai rumah dinas di Pagotan, Madiun, hampir setengah empat sore, peluang naik bis Harapan Palsu eh Jaya sudah pupus, memang di hape saya jenengi "Harapan Palsu" karena contact centre-nya susah ditelpon. Iseng-iseng lihat Traveloka, yang sempat saya uninstall gegara kasus Kanisius itu. Ternyata masih ada 1 tempat duduk kosong, padahal pagi tadi sudah habis. Harapan tinggal KA Eksekutif Bima dengan harga tiket IDR 610K. Gile lu ndroo! Harga segitu mah bisa buat pulang pergi ke Bandung sekeluarga naik KA Kahuripan. Lagipula masih ada pertanyaan baru, ntar pulangnya naik apa?? Yo wis saya cari dulu tiket pulangnya yang pas dihati dan dikantong. KA yang langsung gak ada harapan lagi alias habis bis. Yang masih ada KA yang putus nyambung, berhenti di Semarang atau Kutoarjo atau dimana terus nyambung lagi dengan KA lain. Traveloka sudah memberi banyak pilihan KA yang putus nyambung tapi saya tepis karena ribet, capek dan mahal. Lalu mencoba cari tiket pesawat, ciee kayak orang kaye, ternyata ade! Lion Air CGK - SLO cuma IDR 423K! Cuman 2/3 tiket KA Bima, ntar dari Solo tinggal nyambung gojek paling 10 rebu, bis Sumber Selamat 25 rebu nyampe dah ke Madiun.

Sekarang saatnya penentuan, eng ing eng, harus bilang ke istri karena menyangkut pemotongan duit belanja bulanan. "Piye dek oleh budal ra? Tiket e 600 ewu (mangkate tok)", mulihe gak tak sebut sek. Istri tentu terperanjat tapi tidak sampai gubrak jatuh kebelakang kayak di komik-komik. "Wah kayaknya gagal deh," batinku. Pokoknya kalau wajah istri kurang setuju saya pasti tau dan pasti gak enak kalau memaksakan berangkat". Tapi tiba-tiba, "yo wes gpp budal". "Hahh betulkah? Palu mana paluu? Untuk nutuk kepalaku, ini mimpi bukan". Jarang-jarang kan ngeluarin duit 1 juta untuk sesuatu yang tidak urgen bisa di acc.

Jadilah saya ke ATM untuk transfer ke Traveloka bayar tiket PP Madiun Jakarta. Istri tak suruh menyiapkan peralatan sesuai anjuran panitia 212 yang beredar di grup-grup dan status temen. Kacamata item, topi, powerbank, kantong kresek, dan lainnya. Maghrib itu saya masih sempat jama'ah di mesjid Pabrik dengan anakku Farzan. Setelah kemas-kemas dan makan seporsi mie goreng saya langsung berangkat naik motor ke stasiun. Dalam perjalanan ke stasiun tidak lupa beli nasgor lombok ijo buat dimakan di kereta dan kalau ada sisa bisa buat sarapan di Jakarta. Saya juga mampir di toko Kita "212 Mart" beli 3 botol air mineral dan cemilan. Sebelum sampai stasiun sholat Isya dulu di mesjid Kepolisian dekat stasiun. Setelah itu motor saya titipkan di penitipan dan masuk stasiun.

Tiket KA termahal yg pernah saya beli

KA Bima datang dan berangkat dari stasiun Madiun agak tepat waktu, cuma selisih 3 menit dari jadwal. Gerbongnya masih pakai yang 2016, jadi kalah sama Lodaya yang sudah pakai stainless keluaran 2018. Ya agak kecewa dikit karena harga tiketnya mahal, tapi bodo amat lah. Setelah makan sepertiga nasgor bekal, gak lama saya ketiduran. Bangun-bangun sudah sampai Jogja, bangku sebelah saya masih kosong. Saya berusaha tidur lagi, terakhir lihat di google maps sudah lewat Wates. Bangku kosong sebelah saya tiduri, nanti juga kalau ada yang naik dibangunin. Setelah itu tidur agak lama dan terbangun lagi gegara alarm "sahurr" yang biasanya kalau di rumah gak pernah kedengeran. Tak matikan trus tidur lagi. Bangun terakhir kena alarm "fajr", kali ini mau gak mau ya bangun karena dah subuh, cek di googlemaps sudah mau masuk daerah Cikampek. Bangku sebelah masih kosong padahal statusnya di Traveloka tadi sore seharusnya terisi, mungkin di cancel. Biasanya di kereta saya tayammun, tapi kali ini nyoba wudhu di wc kereta. Setelah sholat subuh tidak tidur lagi, pengen lihat jalur yang sudah lama banget tidak saya lewati. Lupa kapan terakhir lewat jalur ini, kayaknya pas minggat pulang dari Asian Agri di Riau. Lihat Mall gede di kejauhan, "wah dah sampai Bekasi nih". Cek di google ternyata masih Karawang. Ealah udah berubah banget! Dipinggir rel KA daerah Cibitung banyak kos-kosan tandanya industri udah rame banget di sini. Mulai akan masuk Bekasi petugas KA Bima woro-woro menghimbau bagi yang ingin turun Gambir supaya turun di Jatinegara saja karena ada massa 212, demi kelancaran perjalanan anda katanya. Woro-woro ini diulang sampai 3x tapi tidak ada translate ke bahasa Inggris, mungkin belum bisa. Fajar itu, demi kelancaran perjuangan nanti, 2/3 nasgor sisa semalam saya sikat habis.


Sejak stasiun Bekasi sampai Jatinegara mulai terlihat banyak orang berpakaian putih-putih menunggu di peron stasiun-stasiun. Ada perasaan bangga dan bahagia menyeruak. Tadi malam tidur di KA sempat mimpi sampai di Monas orangnya kok dikit banget, trus diledekin sama nyinyiers (tukang nyinyir).


Dua orang lelaki satu seusia saya, satu lagi lebih muda, yang duduk sejajar dengan bangku saya sudah berganti pakaian jadi koko putih. Positif mereka juga mau ikut reuni 212. Ada beberapa orang di belakang yang masih bertahan di gerbong ini dengan tujuan Gambir. Semakin dekat Gambir massa tambah padat baik di peron-peron stasiun yang dilewati maupun dalam KRL. Di dalam KRL terlihat orang-orang berbaju putih-putih berdesakan mirip sarden. Ketika mau masuk stasiun Gambir lewat stasiun kecil entah Gondangdia atau apa, saya gak baca, massa sangat padat sampai-sampai KA Bima harus berjalan pelan.. Melihat massa sebanyak ini dari balik kaca KA Bima entah kenapa tiba-tiba terharu, sungguh terharu. Seorang Ibu yang dari pakaiannya tampaknya pegawai KAI atau dishub ikutan naik KA Bima dari Jatinegara, duduk di depan, takjub  dengan pemandangan manusia di jalanan bawah jalan layang KA. "Ini lebih banyak dari yang dulu" kata dia. "Ini udah kayak di arab ya", ibu tersebut tampak ikut senang, lalu menengok ke belakang menyapa ramah kepada kami yang tersisa di gerbong 3, "pasti yang turun Gambir mau ke 212 juga ya".

KA Bima sampai Gambir jam 6 pagi lewat sedikit, terlambat 15 menit dari jadwal, mungkin karena berhenti di Jatinegara dan harus melambat di Gondangdia. Di Gambir sudah rame orang baju putih. Toilet diserbu penumpang yang baru turun dari KA Bima. Saya yang ingin mandi gak jadi selain karena rame juga malas, merasa sudah segar karena di kereta ber AC dingin toh tidak keringetan. Cukup sikat gigi di wastafel dan cuci muka. Di pintu masuk tampak seorang bapak yang bawa tas koper berdebat dengan sekuriti karena ingin masuk ke toilet khusus untuk penumpang yang sudah boarding. "Disana ngantri panjang paak", "maaf pak ini dah SOP", "yaelah bapak kok gak percaya sih", sekilas perdebatan mereka. Saya jalan keluar ke kawasan Monas, tidak lupa mampir dulu ke konter bus Damri, bertanya perihal Bus yang ke Bandara. Petugas Damri menerangkan kalau memungkinkan bus ya berangkat, lihat kondisi dulu. Lalu saya melewati antrian horor toilet umum di luar ruang boarding stasiun yang diceritakan bapak yang berdebat tadi. Antriannya belasan meter! Saya harap situasi darurat ingin ke toilet tidak terjadi pada saya hari ini.

Karena bus Damri kemungkinan besar tidak beroperasi, saya ingin isi saldo emoney dulu di alfamart/indomart di dalam stasiun untuk naik KA Bandara, tapi sayang, keduanya entah kenapa tidak bisa melayani. Saya keluar stasiun ikut arus massa menuju pintu tenggara monas. Dari pintu keluar stasiun sampai pintu masuk tenggara Monas tidak sampai 50 meter tapi massa sangat padat. Jalan 5 meter bisa 5 menit. Semakin dekat pintu Monas, hanya tinggal 5 meter, arus massa tidak bergerak sama sekali. Keringat bercucuran napas berat dan panas, anak-anak kecil yang digendong kelihatan paling menderita tapi tidak menangis. Dari arah depan tampak arus massa ingin kembali karena sudah tidak kuat lagi ngantri. Ada keluarga terdiri dari bapak ibu dan beberapa anak yang berusaha kembali, mereka tampaknya berada dan terpelajar, gembrobyos memohon dibukakan jalan untuk kembali ke arah stasiun. Massa yang akan masuk, walaupun padat, bisa memberi jalan buat mereka. Ada ibu-ibu yang gendong anaknya juga tampak tidak kuat lagi sehingga berusaha melipir mencari angin.

Kepadatan jelang pintu masuk Monas

Kemudian ada seorang laki-laki yang berinisiatif naik atap mobil yang terparkir entah milik pedagang atau panitia dan memberi komando pada laskar FPI untuk mencegah massa yang akan masuk, agar massa yang ingin keluar kembali mendapat jalan. "Tolong laskar!! Yang mau masuk ditahan, sebelum jatuh korban". Situasi itu terjadi sekitar 10 menit, lalu perlahan mencair. Walaupun kondisi susah payah tapi tidak ada yang mengumpat, malahan pada bershalawat. Saat itu Gubernur Anies Baswedan dikawal beberapa orang minta jalan untuk masuk dan peserta memberi prioritas seperti mereka memberi prioritas keluarga yang kelelahan tadi. Saat itu jarak saya dan pak Anies hanya sekitar 3 meter saja tapi tidak bisa apa-apa selain menonton pak Anies lewat. Para peserta yang tahu pak Anies lewat langsung memanggil-manggil beliau. Setelah pak Anies hilang dari pandangan, ada seorang lelaki muda digotong menembus kerumuman oleh laskar FPI dalam kondisi pingsan. Karena situasi yang tidak memungkinan maka saya ikut arus balik kembali ke stasiun Gambir. Kembali saya melewati antrian horror toilet yang masih panjang. Di area parkiran stasiun saya mencari tempat duduk dekat pagar batas antara Monas dan stasiun Gambir.

Saya dapat tempat pas depan pagar dibawah pohon. Setelah minta ijin ke sebelah, saya duduk tanpa alas dibawah pohon. Harapan saya dari sana bisa terdengar orasi dari panggung. Tapi suaranya hanya samar. Bapak yang duduk di sebelah kiri saya menyapa duluan, tanya dari mana  dan mulai terjadi pembicaraan. Beliau dari Bogor datang bersama anaknya yang sudah dewasa. Beliau pensiunan dini dari Perhutani. Dari ceritanya tampaknya jabatan terakhirnya di Perhutani tinggi. Kemudian datang orang di sebelah kanan saya, di balik pohon. Seorang penderita sklerosis seperti pakde Pramono. Kali ini saya sapa duluan, ternyata beliau datang dari Kutoarjo. Dari belakang saya dua orang anak muda yang asalnya belum sempat saya tanya memberi dua buah roti. Karena malu saya mengambil satu saja. Kemudian mereka pergi.

Dari Kutoarjo

Dari Bogor

Duduk di bawah pohon ini orasi dari panggung utama tidak terdengar. Kami duduk-duduk saja sambil ngobrol kanan kiri. Bapak yang dari Bogor bilang, "walaupun tidak kedengaran tapi yang penting kita sudah meramaikan acara ini". Memang sound sistem saya rasakan sangat terbatas sekali jangkauannya, pun tidak ada layar lebar di tempat yang jauh dari panggung utama. Samar-samar orator dari pangung dikomentari oleh anak si Bapak dari Bogor, "o ini jadwalnya si Anu (saya lupa dia nyebut nama siapa)", mencocokkan dengan jadwal acara di ponselnya.

Di grup KBW (Keluarga Bani Wijdan) saya lihat dek Isan memberi peringatan tentang bandwith yang terbatas di BTS sekitar Monas karena dikeroyok jutaan orang. Ternyata dek Isan benar, internet sangat lemot seperti kembali ke jaman 2G. Saya telpon WA ke bapak dan dek Adin yang berangkat dari Bandung, sulit sekali. Sesekali pesan WA masih bisa masuk, ternyata dek Addin sudah ketemu bapak (mereka tidak naik KA yang sama). Lha sekarang PR saya adalah menemukan mereka. Dek Addin sudah share location, saya lihat posisinya ada di dalam lapangan monas. Wooww dari mana bisa masuk?? Sementara itu pak H. Rudi teman ngaji sekaligus teman petani dari Jember sudah ngebel terus ngajak ketemuan, karena sudah janjian naik pesawat yang sama nanti sore. Saya bilang ke H. Rudi, ketemuannya nanti aja dekat Halte Gambir karena mau mencari bapak dan adik saya dulu.

Waktu sudah hampir jam 09.30. Saya kembali berjalan menuju lapangan Monas, lagi lagi lewat toilet horror yang belum juga mereda antriannya. Ternyata mau masuk monas dari pintu tenggara ini masih belum bisa karena massa yang keluar tidak kalah banyak dari massa yang mau masuk. Akhirnya saya putuskan cari jalan lain untuk masuk. Dari maps sepertinya saya harus jalan ke arah barat (arah patung kuda). Jadilah saya jalan melewati kedubes Amerika terus ke Barat, sampai posisi tengah-tengah selatan lapangan Monas, berharap ada pintu masuk dari tengah. Ternyata di tengah hanya ada parkiran mobil, jadi saya harus berjalan lagi ke Barat. Dari arah patung Kuda saya masuk pintu ke lapangan Monas. Masuk dari sini mudah, tidak terjadi penyempitan seperti di pintu Gambir. Melihat maps, posisi saya dari barat harus kembali ke timur karena posisi dek Adin ada di lapangan Monas bagian tengah. Saya telusuri pelan-pelan, kebablasan balik lagi, kebablasan lagi balik lagi, akhirnya saya berusaha mendekati titik dek Addin sedekat-dekatnya walaupun harus melangkahi orang-orang duduk. Setelah benar-benar dekat barulah celingukan kanan kiri depan belakang. "Kok gak ada ya?" Saya lalu ingat foto dek Addin dan bapak pakai syal warna hijau. Jadilah saya fokus kepada warna hijau dan ketemu!
Setelah salaman dengan bapak, dek Addin dan teman-teman bapak, saya keluarkan hp untuk selfi bersama. Bisa ketemu bapak dan dek Addin di acara ini memang sangat istimewa karena jarang banget, mungkin bisa sekali seumur hidup. Dek Addin segera minta tethering karena XL dari tadi tidak bisa nyambung, sementara saya pakai Telkomsel masih bisa putus nyambung. Balasannya saya dikasih sekaleng sarden yang sudah direbus, siap emplok. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Khawatir bis Damri macet akhirnya saya putuskan naik KA Bandara dari stasiun BNI City Sudirman menuju bandara Soetta. Tawaran dari dek Ihsan di Korea yang mau membelikan tiket shuttle bus selain Damri via Traveloka dibatalkan karena diduga shuttle bus selain Damri pun akan sulit menembus kemacetan. Acara reuni tidak saya ikuti sampai selesai karena perkiraan waktu ke Bandara belum jelas, cara naik KA Bandara bagaimana tiketnya, saldo emoney cuma 50ribu sementara harga tiketnya 70ribu. Belum lagi jalan kaki 3.5 kilometer ke stasiun BNI City dari googlemaps butuh 40 menit. Janji ketemu di Halte Gambir dengan rekan dari Jember saya cancel dan buat janji baru bertemu di Bandara saja.

Bertemu bapak & dek Addin

Setelah pamitan dengan bapak, dek Addin dan teman-teman bapak, saya jalan ke arah Patung Kuda lanjut bundaran HI. Sebelum fix meninggalkan kawasan Monas saya beli kenang-kenangan dulu dan oleh-oleh buat anak-anak di rumah. Kalender 212 bonus stiker ganti presiden harga 10ribu. Gantungan kunci 2 biji buat Nashwa dan Farzan, satunya bertuliskan kalimat tauhid, satunya lagi tulisan reuni 212. Buat saya sendiri beli ikat kepala bertuliskan kalimat tauhid. Untuk istri dan Yasmin tidak saya belikan karena bingung mau beli apa, juga udah capek keliling-keliling lagi. Tadi dek Addin sudah coba order grab tapi tidak ada yang ngambil. Saya pun sudah coba gojek, idem. Jadinya jalan kaki sampai Bunderan HI nanti kalau sudah agak longgar barangkali ada gojek yang mau ambil orderan, pikir saya.

Oleh-oleh

Saya jalan sambil ngobrol dengan seorang laki-laki sesama peserta reuni, orang Lampung, tujuannya mau ke RS Fatmawati, bapaknya sedang dirawat di sana dan disela-sela waktu menjaga bapaknya dia ikutan acara ini. Setelah lewat Sarinah kaki mulai pegel, tenggorokan juga haus. Buka gojek lagi, nyoba order. Lamaa gak disaut akhirnya hape masuk kantong lagi dan lanjut jalan. Tiba-tiba ada bunyi notifikasi gojek, orderan saya diambil. Sambil nunggu gojek, duduk-duduk dulu di kawasan CFD yang pengunjungnya justru peserta reuni 212. Duduk didepan pedagang aqua, diusir. "Jangan duduk situ saya jualan". Saya bergeser sedikit. Kebetulan stok air saya cukup melimpah karena dikasih sama akhwat-akhwat di Monas, sementara dalam tas masih ada 2 botol lagi bekal dari Madiun. Sambil duduk saya ngeliat-liat gedung-gedung tinggi di sekitaran, maklum jarang-jarang ke Kota. Lokasi duduk kira-kira 200 meter dari Sarinah arah Bunderan HI. Kira-kira hampir 10 menit ditunggu-tunggu gojek tidak bergerak dekat McD. Kayaknya si gojek kena macet, tau-tau dicancel gitu aja. Ya sudah, jalan lagi aja sambil aplikasi mencari gojek lain. Belum 100 meter cek hape, ada yang ambil lagi orderan saya. Duduk lagi di trotoar dibelakang abang penjual cincau. Ditunggu-tunggu si gojek muter-muter gak jelas, saya chat ternyata kena macet. Dari aplikasi keliatan dia malah menjauh ke arah timur ke arah jalan Jaksa dekat kos-kosan bapak dulu waktu masih kerja di Telkom Jakarta. Di depan saya abang penjual cincau dikerumuni pembeli, para peserta alumni 212 yang pada jalan kaki, naik motor. Sebelah saya minum cincau kayaknya enak banget. Saya colek pantat si abang cincau yang berjarak 50 cm dari muka saya, "bang satu ya". Hampir 15 menit ditunggu sambil minum cincau yang emang juara segernya, si gojek makin menjauh. Akhirnya saya mohon ijin untuk cancel saja walaupun si gojek udah muter-muter ke utara, selatan, timur demi orderan ini.

Cincau CFD IDR7K

Perjalanan dilanjut ke arah bunderan HI, dengan sisa-sisa harapan yang ada saat mendekati bunderan HI saya order gojek lagi. Ada yang ambil. Kali ini posisinya cukup dekat. Saya tunggu dekat gedung yang ada tulisannya "Mandarin Oriental". Gojeknya setuju. Dari peta dia sekarang ada di antara Hotel Indonesia dan Plaza Indonesia, tidak bergerak. Saya chat lagi, kali ini menawarkan diri untuk berjalan ke arahnya daripada cancel lagi. Setelah jalan 200 meter ketemulah Nmax warna biru, yang membawa gojek wanita. Singkat cerita setelah melewati jalan tikus sampailah di belakang stasiun BNI City. Tak lupa si mbak Gojek dikasih bintang 5 biar seneng. Stasiun KA Bandara ini menurut saya sangat keren desainnya. Ambil beberapa foto selfi trus masuk toilet buat raup. Tempat penjualan tiketnya di lantai 2. Terlihat ada pemandu yang membantu para pembeli tiket karena tiket dijual dengan mesin/komputer mirip ATM. Hampir semua yang beli tiket bertanya pada pemandu entah karena memang belum ngerti atau sekedar ingin bertanya pada pemandu yang tampilannya tidak kalah dengan pramugari itu. Saya termasuk yang tidak ngerti. Tanya dulu kepada mbak pemandu, "pakai kartu debit bisa kan?" "Bisa", "Syukurlah".

Jam keberangkatan KA Bandara pukul 12:21, kalau saya sholat dulu tidak nutut, lagipula saya belum menemukan tanda "mushola atau prayer room" di stasiun yang gede, mewah tapi sepi ini. Jalan lagi turun pakai eskalator ke peron di lantai dasar. Barengan saya mau naik KA, ada orang seperti dari Indonesia timur bertanya-tanya tentang transportasi setelah sampai stasiun Bandara. Dia mau ke terminal 2, ke Hongkong. Saya juga belum tau tapi berusaha membantu dengan buka google, tapi ternyata keduluan sama dia yang juga buka google. Dijawab sendiri, "oo nanti naik skytrain". Di atas KA Bandara ini mayoritas diisi oleh peserta reuni 212. Meski demikian masih terasa sepi, okupansi sekitar 40%. Sementara itu di depan saya ada seorang lelaki yang dari tadi ngobrol menceritakan tentang dirinya, juga tentang keberhasilan Jokowi dan sempat ngomong tentang kasus Al-Maidah segala. Tampaknya dia sengaja memprovokasi kami yang berbaju putih-putih. Tapi tidak ada yang menanggapi, bahkan ditinggal tidur oleh pemuda jenggotan berbaju putih disebelahnya yang diduga keras juga peserta reuni 212. Saya mulanya agak panas juga, tapi karena omonganya tidak terlalu jelas jadi males ndengerinnya.

KA bandara (Railink) mayoritas diisi peserta reuni 212
SkyTrain yang menghubungkan stasiun KA Bandara dengan terminal-terminal

"Pak bangun, sudah sampai", suara wanita membangunkan tidur saya, yang ternyata pramugari KA. Saya celingukan dalam kereta yang sudah kosong melompong, hanya saya dan pramugari. Setelah saya keluar, KA langsung berangkat lagi. Sementara itu pramugari mengiringi langkah saya ikut keluar KA. Kami berjalan bersama sampai meja informasi stasiun (jangan cemburu atau ngiri yaa). Saya bertanya pada satpam di setelah meja informasi, "kalau mau ke terminal 1A bagaimana?", "Nanti naik skytrain pak, mentok belok kanan naik tangga". Mengikuti keterangan satpam, di atas stasiun KA Bandara ada peron skytrain, yang mengantar penumpang keliling-keiling Bandara, gratis. Disana sudah ada laki-laki yang ngomongin Al-Maidah tadi kayaknya merasa ketinggalan pesawat karena sempat panik terus tiba-tiba berubah jadi lega setelah ada yang memberitahu. Tidak sampai 5 menit kemudian skytrain datang. Bangkunya hadap-hadapan, interiornya mirip bus Bandara. Pemandangan dari dalam skytrain bisa terlihat pesawat-pesawat dalam terminal 1.

Turun dari skytrain masih harus berjalan sekitar 500 meter untuk mencapai pintu masuk terminal 1A yang berada di pojok. Ingin ke mushola di luar tapi saya urungkan karena di dalam sepertinya ada mushola yang lebih baik. Telpon berdering, teman dari Jember menelpon. "Saya sudah di Bandara", "ya pak saya sudah di Mushola di dalam". Sambil menunggu teman saya mandi di toilet mushola. Mandinya pakai selang buat cebok. Saya mandi agak lama karena semburan airnya dari selang cebok kecil. Ketika pintu toilet dibuka ternyata temen saya ada di depan pintu. Setelah mandi, sholat, saya tunggu teman di ruang tunggu gate A6. Perut mulai lapar, teringat bekal roti dan sarden yang semua didapat dari pemberian orang. Jadilah makan pakai lauk sarden, "nasi" nya roti keju, sendoknya jari, piringnya kertas alas roti keju. Makan sarden dalam kalengan sangat licin, kalau dituang mesti tumpah. Ya jadinya kuahnya diminum dulu seperti minum soft drink kalengan. Jari saya sudah gupak kuah sarden, bau amis tapi cuek aja.

Makan siang sarden dan roti keju gratisan

Pesawat Lion kali ini sangat tepat waktu, mendekati jam 16:30 kami sudah disuruh boarding. Jadwal terbang 17:15. Pesawatnya boeing 737 max 8 persis yang jatuh bulan lalu. Tidak lupa sebelum naik pesawat selfi dulu dengan H. Rudi dan H. Hamdani, teman dari Jember yang tadi saya ceritakan. Di dalam pesawat saya duduk di kursi 18A sengaja minta dekat jendela. Di bangku 18B dan 18C sudah ada yang duduk, dari tampilannya 100 persen dapat ditebak baru dari Monas juga. Berjenggot dan memakai topi tauhid. Mereka asli dari Solo, berangkat pakai 2 bis, pulangnya mencar sendiri naik Lion.

Bersama kawan lama H. Rudi & H. Hamdani dari Jember

Penerbangan ini cukup menyenangkan dan tidak menakutkan. Ini pertamakali saya naik pesawat ke Adi Sumarmo Solo. Saat mendarat gemerlap lampu kota Solo terlihat begitu indah. Sampai Solo kami sholat dulu di Bandara, di jamak qashar. Rencana awal saya, dari Bandara naik gojek atau Damri ke terminal Tirtonadi sambung bis Sumber atau Mira ke Madiun. Tapi sejak di Jakarta tadi ditawari bareng naik Fortuner H. Hamdani yang ditinggal di Solo beserta sopirnya. Jadi saya nebeng mobil, tapi sayangnya H. Hamdani punya agenda di seputaran Solo. Resiko nebeng ikut muter-muter dulu, bahkan sempat ditinggal bertiga dengan pak H. Rudi dan sopirnya H. Hamdani di kos-kosan ponakannya di daerah utara Solo yang sudah masuk Boyolali. Tampaknya urusan rahasia pak Haji, hehe. Ya tidak apa, malah sempat makan Mie Ayam Bakso yang enak dan tiduran setengah jam.

Hampir pukul setengah sebelas malam kami sudah masuk tol meninggalkan kota Solo. Di tol fortuner diesel ini melaju begitu anteng, rpm 2800 kecepatan sekitar 120 kpj. Tidak lama kesadaran saya hilang, bangun-bangun sudah di ramp gerbang tol Madiun. "Mas aku turun di gerbang tol saja, jenengan kan mau masuk tol lagi". "Lho gak papa pak, sampai rumah jenengan". "Jangan mas sepedaku di stasiun". "Ya sampai stasiun tidak apa-apa pak". Ya alhamdulillah, saya tidak perlu nyegat bis dan gojek lagi ke stasiun dari gerbang tol Madiun. Pukul 23.30 saya sampai stasiun, ambil motor di penitipan. Kena tarif 2 x 24 jam Rp12.000,- karena belum lewat jam 00.00. Dari stasiun jalan kosong sampai rumah, motor bisa dipacu maksimal. Sampai rumah semua sudah lelap, saya mandi terus ikut tidur. Hajat tertunaikan.
_____________________

Kenapa saya begitu ingin kesana? Padahal, pada aksi 2 tahun lalu saya tidak hadir disana. Jelas karena Allah yang menggerakan hati, namun geraknya hati ada lantarannya. Hari Jum'at siang yang lalu  saya masih bersama bapak dan ibu di Madiun. Sorenya rencana mengantar bapak & ibu ke stasiun KA untuk pulang Bandung. Minggu pagi bapak akan berangkat ke Jakarta, reuni 212, jadi paling tidak masih bisa istirahat sehari di Bandung. Tidak kepikiran saya akan menyusul beliau ke Jakarta. Siang itu sehabis jum'atan ada postingan masuk di salah satu grup WA. Ada kawan yang ngeshare gambar dengan caption provokatif. "Nak ngaji yang bener ya? Biar ntar kalo Jihad itu di jalan Allah. Jgn kayak mereka jihad kok di jalan Thamrin dan jalan Monas." Ingin menanggapi tapi saya tahan diri, karena sebelumnya ada kawan yang sudah left grup dimana saya sedikit banyak punya andil juga. Juga dibeberapa grup lain terjadi hal yang sama, bahkan saya sendiri terpaksa left dari salah satu grup. Dari situ saya tidak ingin segera mengkonter postingan rekan itu. Apalagi saya termasuk baru diundang ke grup itu, biarlah nanti kalau ada posting lagi yang merendahkan aksi 212 akan saya konter. Trus saya jadi mikir, bagaimana saya bisa membela sepenuh jiwa jika saya tidak mengalaminya sendiri. Itulah pendorong saya pergi ke Jakarta, untuk merasakan, menyaksikan sendiri, menjadi bagian dari jutaan massa yang hadir disana. Justru dengan nyinyiran dan tekanan aksi ini akan semakin membesar. Rencananya foto-foto dan pengalaman saya saat di 212 akan saya share ke grup setelah mengalami sendiri. Tapi sampai sekarang foto-foto itu belum saya share ke grup dan semoga tidak perlu saya share.

Madiun
4 Desember 2018

Monday, 25 July 2016

YUK DULUR, KITA SWASEMBADA GULA (LAGI)



Bayangkan anda punya mesin waktu, bisa kembali ke tahun kenangan, masa-masa yang indah, atau bahkan ke waktu yang jauh lebih lampau. Suatu ketika anda sembarang tekan tombol mesin waktu, oops ternyata menuju tahun 1930. Dreng deng deeeng! Jatuhlah anda di kebun tebu. Pulau Jawa saat itu memang dipenuhi oleh ladang-ladang tebu, hamparannya luas, jalur rel lori yang rapi dan bersih, tidak jarang dijumpai orang kaukasia yang berpakaian putih-putih dengan topi khasnya. Dimana-mana tebu! Lalu anda jalan-jalan di kebun tebu, tapi ada yang janggal, tebu-tebunya tegak dan tinggi sekali, jauh lebih tinggi dibandingkan tebu kekinian. Di dalam kebun tebu terdapat saluran air yang dalam-dalam, yang tambah bikin terheran-heran kondisi kebunnya sungguh bersih dan kelihatan sekali dirawat dengan baik. Lalu anda diam-diam naik lori, sepanjang perjalanan keadaan kebun tebu relatif sama bagusnya. Tiba-tiba kehadiran anda diketahui oleh mandor tebu berwajah bengis, membawa arit besar, sehingga anda terpaksa menekan tombol untuk kembali ke masa kini. Kunjungan singkat ke tahun 1930 begitu berkesan, membuat penasaran sehingga mendorong anda googling apa yang terjadi di Pulau Jawa pada masa itu. Penelusuran ternyata membawa anda kepada informasi tentang masa keemasan industri gula Indonesia (Jawa).

Industri gula pernah menjadi produsen dan eksportir gula nomer dua di dunia. Puncaknya pada tahun 1930, Indonesia memproduksi 2.9 juta ton gula dengan porsi terbesar untuk ekspor. Produktivitas gula mencapai 14.8 ton/ha, luar biasa. Namun apa yang terjadi kemudian? Kondisi industri gula masa kini justru antitesa kondisi pada jaman lawas. Saat ini Indonesia adalah negara importir gula terbesar ketiga dunia. Pada tahun 2012, rata-rata produktivitas gula hanya 5.9 ton/ha, tidak sampai separuh dari yang dicapai hampir seratus tahun yang lalu. Mengutip Toharisman A. & Triantarti (2014), penurunan performa ini utamanya disebabkan oleh kebijakan yang tidak mendukung dan tidak konsisten terhadap industri gula, yang mendorong peningkatan performa baik dari sisi onfarm maupun off farm. Kondisi ini diperparah dengan peralihan lokasi budidaya tebu ke lahan-lahan marginal karena kalah bersaing dengan komoditas lain, alih fungsi lahan tebu ke perumahan dan industri, kurang dukungan kepada riset dan pengembangan, dan minimnya sumber daya manusia yang memiliki keahlian dibidang pergulaan.

Dengan kondisi yang sudah begitu jauh berbeda, apakah mampu kita kembalikan kejayaan Industri Gula? Dibalik pesimisme, sesungguhnya peluang terbuka lebar. Tengok keberhasilan negeri tetangga, Thailand yang justru mampu menaikkan produksi sedemikian pesat dalam beberapa tahun terakhir. Thailand tidak mempunyai areal dan penguasaan lahan per petani yang luas seperti Brazil, sang penguasa pasar. Secara geografis, iklim, sosial dan ekonomi  Thailand cenderung lebih dekat dengan kita. Disaat harga gula dunia jatuh 40% pada periode 2011-2014, ekspor gula Thailand justru naik 70%, memperkokoh kedudukan Thailand sebagai negara eksportir gula terbesar kedua di dunia. Dalam 5 tahun, Thailand mampu menaikkan produksi gulanya sebesar 50% mengalahkan batasan iklim dan kelembaban yang relatif tidak memadai, kualitas tebu tidak terlalu baik, luas lahan petani relatif kecil, mekanisasi yang minim dan kinerja pabrik yang relatif kurang. Pencapaian Thailand ini sungguh layak dibanggakan (dan ditiru).

Pemerintah Indonesia telah menargetkan swasembada gula pada tahun 2019, dengan produksi gula sebesar 3.8 juta ton. Berkaca pada Thailand dengan kenaikkan produksi sebesar 50% dalam 5 tahun, sesungguhnya angka itu bukan mustahil. Pada tahun 2014, produksi gula Indonesia sebesar 2.55 juta ton, jika menyamai pencapaian Thailand, maka tahun 2019 akan dihasilkan gula sebanyak 3.825 juta ton dari kenaikan sebesar 50% dalam 5 tahun. Secara hitungan masuk akal. Namun sebagian kalangan akademisi menyangsikan. Guru besar ilmu ekonomi pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin mengatakan hal itu mustahil (Tempo.co, 19 Maret 2015). Pendapat beliau didasari oleh lambatnya kenaikan produksi selama sepuluh tahun (2004-2014) yang hanya 3 persen per tahun, bahkan beliau lebih ekstrim mengatakan, "Hanya dengan upaya luar biasa dan keajaiban, produksi gula dalam negeri bisa swasembada." Industri gula indonesia harus melakukan langkah-langkah inovatif untuk mengembalikan kejayaannya, atau kurangnya kita harus bisa swasembada. Tidak ada kalimat “malu untuk meniru” dalam kamus kesuksesan. Lalu, langkah apa yang harus diambil

Pertama, berkaca dari keberhasilan industri gula Thailand, intervensi pemerintah adalah kunci. Pemerintah Thailand telah terlibat sangat erat dengan industri gula selama beberapa dekade, dan telah membuat langkah-langkah untuk meningkatkan produksi gula dan ekspor mereka secara mengagumkan. Pemerintah Thailand mengucurkan dana untuk industri gula mereka sekurang-kurangnya 1.3 Milyar USD per tahun! Mereka menggunakan sistem subsidi yang unik, dengan menjamin harga gula dalam negeri yang tinggi namun dibatasi oleh kuota, namun pemerintah membuka keran penuh untuk ekspor dengan harga gula sesuai pasaran dunia. Hal ini membuat produsen gula bersemangat untuk memenuhi kuota dalam negeri dan secara otomatis memenuhi kebutuhan gula dalam negeri Thailand sedangkan sisanya di ekspor.  Selain sistem subsidi tak langsung itu, pemerintah Thailand juga melakukan intervensi dengan mengatur pola tanam tebu, kebijakan bagi hasil 30:70 untuk PG & petani, subsidi untuk etanol terutama yang berasal dari tetes sebagai bentuk subsidi tidak langsung untuk petani & PG. Begitu majunya pertanian Thailand bahkan pemerintah Thailand mendorong petani padi untuk pindah ke tebu, supaya produksi yang sudah luar biasa itu menjadi 50% lebih besar lagi dalam lima tahun. Sebelumnya produksi beras sudah begitu melimpah sehingga ekspor demikian besar, namun harga beras di pasaran dunia tidak terlalu baik maka fokus pemerintah beralih ke gula.  Kita masih berpeluang besar untuk mengejar ketertinggalan, secara produktivitas tebu bahkan kita lebih tinggi dari Thailand, namun sayangnya terlalu banyak kehilangan gula dalam proses tebang sampai dengan menjadi produk. Truk tebu wira-wiri dari timur ke barat, menempuh jarak ratusan km untuk mencari PG yang memberikan rendemen atau harga tebu terbaik. Sementara PG terdekat tidak mampu bersaing. Betapa banyak inefisiensi yang timbul dari waktu tempuh, bahan bakar truk dan kehilangan gula selama perjalanan. 

Pemerintah RI bukan tinggal diam, subsidi untuk bibit, bongkar ratoon, bantuan alat mekanisasi dan penyaluran kredit KKP-E berbunga rendah adalah sebagian usaha yang telah diberikan pemerintah bagi industri gula. Namun masalah klasik kebijakan di Indonesia berkutat disitu-situ saja, secara rancangan kebijakan sudah bagus, namun penerapan di lapangan belum sesuai sasaran, belum sungguh-sungguh sehingga belum ada hasil nyata untuk peningkatan produksi gula seperti di negara tetangga. Kebijakan-kebijakan tersebut hanya perlu diperbaiki agar lebih tepat sasaran, traktor benar-benar dimanfaatkan oleh petani bukan menjadi pajangan di kantor-kantor koperasi, bantuan-bantuan merata ke semua petani, tidak jatuh kepada sebagian kecil pengurus kelompok. Program-program pelatihan petani haruslah aplikatif dan realistis, alih-alih formalistis dan sekedar dokumentatif. Pemerintah harus campur tangan untuk mengatur harga tebu. Harga tebu ditetapkan hampir seragam untuk tiap wilayah, dengan besaran harga tidak merugikan petani dan PG. Penetapan harga batas atas-batas bawah dengan sistem pembelian tebu adalah solusi, menggantikan sistem bagi hasil yang dianggap terlalu kuno. Sistem bagi hasil dengan analisa rendemen individu kenyataannya tidak dapat diterapkan sesuai tujuannya. Negosiasi-negosiasi petani pedagang besar dengan PG mematikan fungsi ARI, tatanan jenis dan umur tebu tidak diperhatikan lagi, jadilah harga dikuasai pasar, prinsip yang dipegang gilingan tetap makan. Dengan sistem pembelian putus harga atas-harga bawah, peran pedagang besar dapat diminimalkan. Perang harga dan pergerakan tebu antar pabrik antar kabupaten bahkan provinsi  menjadi minimal bahkan hilang.

Rencana pemerintah membuka PG baru harus diikuti dengan penambahan areal sehingga tidak overlap dengan lahan binaan PG eksisting. Contoh kasus pada musim giling tahun 2016, PG  baru di Lamongan mengambil tebu dari Lumajang, Situbondo dan Blitar, sementara PG-PG terdekat hanya menonton dan mencatat truk-truk tebu yang keluar tanpa mampu berbuat apapun. Secara potensi tebu Lumajang masih rendah, sementara harga yang ditawarkan PG baru itu tidak masuk akal secara hitungan bisnis. Maka membuka lahan baru bagi PG baru adalah suatu kewajiban.

Kedua, Industri gula sendiri haram diam berpangku tangan, bergantung pada kebijakan dan subsidi pemerintah. Tugas PG adalah menekan kehilangan-kehilangannya, sehingga harga yang ditetapkan tidak menjadi kerugian. Pabrik yang tidak mampu bersaing dan berubah akan dilibas oleh jaman. Budaya kerja harus direvisi total, tidak ada lagi ungkapan, “dari dulu ya seperti ini”. Perlu diakui bahwa PG-PG BUMN memang secara kinerja belum maksimal, masih banyak peluang untuk menekan kehilangan-kehilangan dalam pabrik. Sistem pelaporan “hitung mundur”, “ABS”, cari aman, harus dihilangkan. Pimpinan perusahaan sendiri harus arif menyikapi pelaporan benar, tidak boleh langsung menghakimi, karena harus dimaklumi bahwa PG BUMN mayoritas peninggalan kolonial, bahkan masih ada yang menggunakan mesin uap untuk penggerak gilingan, tentu tidak dapat disamakan dengan PG baru nan modern. Pelaporan benar harus diarahkan lebih sebagai bahan evaluasi, bukan punishment. Peran Quality Control amat vital.

Mental dan pikiran yang teracuni harus disegarkan kembali. Ibarat masuk WC umum terminal, pertama kali masuk bau pesing menusuk hidung ingin muntah, setelah beberapa saat jongkok di sana lama-lama hidung beradaptasi sehingga baunya menjadi samar, sama halnya di perusahaan tampaknya kita harus keluar sejenak dari rutinitas pikiran, jargon-jargon lawas yang telah bercokol kotor di hati, agar kita tahu betapa tertinggalnya kita dibandingkan dengan kompetitor di luar sana. Semua jajaran mulai dari paling atas sampai yang terendah harus satu pemahaman. Atasan pulang kursus bawahan tetap skeptis. Karena atasan tidak mampu menyampaikan dan merubah keadaan, maka justru atasan kembali ikut pola lama. Butuh dorongan yang kuat dan tegas, sungguh-sungguh mengarah pada jajaran yang paling bawah, serta konsisten, agar perubahan itu bisa berjalan dengan baik. “Ini BUMN...,” masih ada yang berpikiran seperti itu?? Kalau masih ada, mari kita lihat transformasi di PT. Telkom dibawah pimpinan pak Cacuk, PT. KAI dibawah pak Jonan, Garuda Indonesia dibawah pak Emirsyah, adalah contoh-contoh BUMN yang sempat terpuruk jatuh ke titik terendah dan berhasil bangkit secara luar biasa. Mbah saya sempat bercerita, jaman dulu orang sampai bilang, “mudah-mudahan keturunanku tidak ada yang kerja di Perumtel (PT. Telkom)”, saking minimnya kesejahteraan. Tidak sampai satu dekade lalu, naik kereta ekonomi seperti ikan pindang, bertaruh nyawa di atap, namun sekarang kelas menengah justru banyak yang beralih ke kereta ekonomi yang sejuk dan bersih, stasiun yang tertib, mirip bandara.

Intinya untuk mengembalikan kejayaan industri gula Indonesia, tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja namun juga dari dalam industri gulanya sendiri. Kita harapkan hal ini tercapai dalam waktu dekat. Mari kita bersinergi, tanpa prasangka, dengan niat semata-mata untuk meraih hasil yang lebih baik. Lalu kita teriakkan dengan lantang, “Yuk dulur, kita swasembada gula lagi!”

Probolinggo, 25 Juli 2016

HARAPAN DEN BAGUS ROSAN..



Raden Bagus Rosan galau, dirinya harus menempuh jarak ratusan kilometer melintasi enam kabupaten untuk pulang. Tahun lalu dirinya tidak perlu berlama-lama diatas bak kayu truk, berdesakan dengan rekan-rekannya yang lain, cukup satu setengah jam. Sampai tujuan dia harus menyerahkan seluruh hasil kerjanya selama setahun, itulah takdir yang memang dicarinya. Seluruh tabungannya diberikan dengan sukacita, diperas habis, makin banyak makin puas, semakin manfaat. Pengorbanan yang menjadi keharusan sebagai mahluk ciptaan tuhan. Tahun ini dirinya harus berlama-lama di jalan. Bekalnya memang tidak habis di jalan, tapi pasti berkurang. Makin lama di jalan badannya makin kecut, kantong-kantongnya basah oleh keringat, tinta uang bekalnya luntur tidak bisa dipakai lagi, suatu proses yang tidak dapat kembali. Matanya menerawang mengenang perjuangannya setahun ini, bertahan hidup tanpa hujan berbulan-bulan lamanya dan bersusah payah menahan bekal yang telah diperolehnya agar tidak hanyut diterpa hujan yang turun tidak semestinya. Eits, buru-buru diralat kalimat terakhir, menyalahkan cuaca sama dengan menyalahkan tuhan. Memang ditujuan yang baru dan asing ini dirinya lebih dihargai, potensinya dihabiskan maksimal, bekalnya diperas habis dan sungguh belum pernah dirasakan sebelumnya.

Gambaran diatas adalah kondisi tebu di Jawa Timur tahun ini, 2016. Kewajiban PG Swasta, termasuk PG rafinasi untuk menggiling tebu, disamping raw sugar benar-benar merusak tatanan harga tebu menjadi level yang tidak masuk akal. Kapasitas giling yang sangat besar membutuhkan pasokan bahan baku tebu yang sangat banyak. Ibarat raksasa yang kelaparan, dia harus makan walaupun mengambil jatah orang lain. Ongkos makan mahal tidak mengapa asal tidak sampai sekarat meski tidak kenyang. PG lain yang diambil jatahnya terpaksa berbagi makanan, sama-sama kelaparan, menghabiskan uang tabungan untuk membeli makanan asalkan tidak sampai mati. Sudah jelas secara hitungan bisnis, harga tebu tidak masuk akal, tapi pilihannya hanya dua, rugi atau sangat rugi.
Dengan kondisi pasar yang kacau balau ini, peran regulator sangat diperlukan. Pemerintah harus turun tangan menengahi keadaan. Rencana pemerintah mencarikan lahan tebu baru sebanyak 500.000 ha untuk PG-PG baik swasta atau BUMN, yang eksisting maupun yang baru, dalam rangka mencapai swasembada gula tahun 2019 harus segera direalisasikan. Pengadaan lahan baru yang digadang-gadang di Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat dan Pulau Jawa tidak boleh tunda, agar tidak terjadi saling memakan antar pabrik gula. Bisa dibayangkan hampir 300 truk setiap hari meluncur dari tapal kuda ke barat, dibagi untuk PG KTM (Kebun Tebu Mas) dan PG-PG PTPN X, sementara dari wilayah binaan PG-PG PTPN X sendiri di daerah Blitar, Kediri dan sekitarnya tidak kurang dari 700 truk yang dimakan oleh PG KTM. Kondisi ini sungguh menguntungkan bagi petani tebu, posisi tawar menjadi sangat tinggi. Sementara kerugian di depan mata mesti dihadapi oleh PG.

Raden Bagus Rosan sungguh sedih melihat kondisi ini, PG-PG BUMN yang katanya sekarang sudah jadi saudara holding ternyata belum menunjukkan rasa persaudaraannya. Bahkan PG-PG yang sesaudara kandung saja saling sikut, nyaris bunuh-bunuhan sendiri. Memang dalam keadaan genting yang mengancam jiwa, urusan perut membuat manusia gelap mata. Seperti gambaran kondisi hari kiamat dalam kitab sucinya manusia, dimana seorang ibu menjadi lupa pada anaknya, semuanya mencari selamat sendiri-sendiri. Den Bagus heran, bukannya ada yang dituakan diantara mereka, yang bisa menengahi kondisi ini, setidaknya mengatur supaya harga dirinya tidak overpriced seperti saat ini. Dirinya malu dihargai terlalu tinggi, kasihan pada mulut-mulut gilingan PG yang akan menghisap sari-sarinya, karena dia tahu bahwa manisan yang akan dihasilkan oleh PG-PG itu tidak akan sebanding dengan nilai dirinya. “Ah kalau begini, bisa-bisa tutup PG-PG ini, lama-lama aku menjadi tiada juga..”

Mendengar cerita-cerita dari manusia, Raden Bagus Rosan sadar bahwa simbah-simbahnya dulu memang lebih tinggi dan berkualitas dibanding dirinya kini. Dulu simbahnya begitu terawat, makannya enak-enak, dan jarang stres. Dia membandingkan kehidupan simbah-simbahnya yang leluasa bergerak di antara tanah remah, cukup air dan tidak pernah kebanjiran, sementara dirinya sekarang tergusur oleh kondisi jaman sehingga tempat tinggalnya sekarang dan kebayakan teman-teman sejenisnya, di lereng-lereng perbukitan tandus dan kering, yang tanahnya keras dan sinar matahari yang kurang karena ternaungi. Pantas badannya sekarang pendek dan wajahnya kurang manis. Makin lama kualitas gennya semakin buruk. Raden Bagus Rosan berharap manusia-manusia yang berakal budi itu sudi mengubah takdirnya, mungkin dengan mengawinkannya dengan gadis luar negeri yang sungguh manis dan tinggi, dari Brazil mungkin. Ah mimpinya memang muluk-muluk, tapi memang itulah harapannya, supaya harga dirinya sesuai dengan potensinya, dia tidak ingin merugikan siapapun. Diapun rela diedel-edel jeroannya supaya disisipkan gen-gen baru yang dalam waktu singkat bisa merubah dirinya menjadi lebih baik, seperti Superhero di televisi.

Raden Bagus Rosan menyadari bahwa potensinya memang belum dimaksimalkan oleh kebanyakan PG-PG tua milik BUMN, gilingan kurang ngepress, inversi di pengolahan, membuat nilai dirinya yang sudah tidak tinggi ini terbuang sia-sia. Kehilangan standard perlu diakui masih belum tercapai, walaupun tukang masak dan tukang giling ngotot pabriknya sudah baik tapi sekarang ada tukang kontrol yang punya data lebih akurat. Yang membuat dia geli adalah adik-adiknya yang belum cukup umur pun dibawa serta ke PG oleh tukang tebang, “buat apa? Manusia memang suka berbuat sia-sia”. Walaupun bongsor, adiknya tidak berpotensi, belum jadi, manisnya hanya samar-samar tok, seperti iklan komersial, “kayak ada manis-manisnya..”. Yang membuat dirinya terpingkal-pingkal, baju-bajunya yang tidak bisa diperah dibawa serta, ikut digiling. “Betapa bodohnya manusia jaman sekarang”.

Kalau ada lorong waktu yang mampu membawanya kembali ke masa lalu, ingin dirinya pulang, akan ditunjukkannya pada manusia tentang rahasia kesuksesan masa lalu. Namun dia tersadar, bahwa dirinya hanya tebu yang tak mampu bicara, tak berkuasa. Sementara manusia punya ilmu, punya perpustakaan, gambar-gambar jadul, segala pengetahuan tanpa batasan di dunia maya. Bebas merdeka. Hanya saja manusia punya sifat lupa, lalai, sehingga seperti hidup tanpa tujuan di dunia, sementara akal budi, kuasa dan kemerdekaannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh sang maha pencipta. Raden Bagus Rosan kemudian meneruskan tasbihnya, pujian-pujian yang tidak dimengerti oleh manusia, bersyukur bahwa dia diciptakan menjadi tebu saja. Pikirannya menjadi jernih kembali, dan rasa positif segera memenuhi relung jiwanya. Suatu sifat yang seharusnya dimiliki oleh manusia, mengalahkan rasa egonya membangun kehidupan yang sejahtera bersama-sama sebagai mahluk sosial. Hanya dengan cara demikian dirinya yakin bahwa produksi manisan yang disebut orang sebagai gula itu akan meningkat pesat. Ilmu tak ada gunanya ditangan orang yang tidak tepat, bahkan menjadi senjata perusak masal ditangan orang jahat. Raden Bagus Rosan punya harapan, negeri tetangga pun bisa pasti kita juga bisa. Lamunannya tersadarkan dengan bunyi gilingan pabrik, takdirnya telah dekat, tubuhnya akan diperas seiring dengan kegalauannya yang sirna.

Probolinggo, 25 Juli 2016

Tuesday, 6 October 2015

UJI STATISTIK PENILAIAN MUTU TEBU SECARA VISUAL TERHADAP RENDEMEN TEBU

Tebu yang akan digiling di Pabrik Gula harus memenuhi syarat tebu layak giling. Apa itu syaratnya?
  1. Manis. Tebu memang manis, tapi tingkat kemanisannya berbeda-beda. Dikatakan telah layak giling apabila tebu telah masak ditandai dengan perbedaan kemanisan batang bagian bawah dan atas yang makin kecil. Pada tebu muda batang bawah jauh lebih manis daripada batang atas. Makin tua makin kecil selisihnya, sehingga seluruh batang tebu manis merata.
  2. Bersih. Tebu yang akan digiling harus bersih. Bukan berarti tebu itu harus dilap, digosok seperti akik, melainkan tebu itu harus tebu, apa maksudnya?! Bagian tebu yang layak giling adalah batangnya, lebih pasnya batang tuanya. Daun tebu yang masih hijau, daun tebu yang sudah kering, tanah, akar, dan tebu anakan yang masih muda tidak diharapkan ikut digiling. Selain tidak/sangat sedikit mengandung gula, bagian-bagian itu mengganggu proses.
  3. Segar. Segar maksudnya harus segera digiling sesegera mungkin setelah ditebang dari kebun. Biasanya kurang dari 36 jam masih dikatakan segar. Semakin lama tebu tidak digiling maka kandungan gula dalam batang tebu akan semakin menurun.
Slogan MBS ini selalu ditekankan oleh pimpinan Pabrik Gula pada bawahannya (bagian tanaman) dan petani pemasok. Yang paling berpengaruh terhadap perolehan gula terutama adalah MANIS-nya, sementara bersih dan segar adalah upaya menekan agar potensi MANIS-nya itu terjaga sampai digiling. Semua syarat tebu digiling adalah mutlak dipenuhi (secara teori), namun pada kenyataannya tidak semudah yang dibicarakan. Nah, tulisan ini ingin membahas tentang pengaruh penilaian keBERSIHan tebu secara visual oleh petugas QC dan pengaruhnya terhadap rendemen. Untuk melawan argumen "pokoknya" harus dengan data ilmiah, maka tulisan ini harus seilmiah mungkin. Karena bukan skripsi, tesis atau sejenisya, maka seilmiah-ilmiahnya masih dibawah tulisan-tulisan sejenis itu, yang penting bisa dipahami oleh para pembaca dan dapat dijadikan referensi (tapi jangan buat daftar pustaka di skripsi anda ya! Diketawain dosen nanti).

Silahkan download .pdf lengkapnya..

https://drive.google.com/file/d/0B5GEH5G_1ZzhVHBEYnZzbWROX3M/view?usp=sharing

Sunday, 21 December 2014

mm CURAH HUJAN


Dibangku sekolah kita pernah belajar tentang siklus air, mulai dari evaporasi air permukaan dan dari dedaunan menjadi jadi awan lalu turun menjadi hujan jatuh ke air dan tanah, sebagian masuk ke tanah sebagian mengalir di permukaan (run off). Hujan yang turun bervariasi, kadang deras kadang gerimis, soal itu anak kecil pun tahu. Namun yang tidak semua orang tahu adalah mengukur besaran curah hujan, dan maksud dari satuan curah hujan.
Untuk mengukur curah hujan dapat dilakukan dengan menggunakan ombrometer, bukan combrometer lho. Alat ini biasanya bentuknya bulat diatas lalu terhubung dengan corong air masuk ke penampungan air dibawah.


Contoh Ombrometer

Curah hujan diukur setiap hari atau setiap minggu, atau setiap bulan, atau jam, terserah anda saja. Kalau di tempat kami setiap hari pada pukul 07.00 air hujan yang tertampung hari yang lalu pada ombrometer dikeluarkan untuk kemudian di masukkan gelas ukur. Nah dari sini sudah ketahuan deh berapa curah hujan dalam satu hari kemarin (pukul 7 ke pukul 7), dalam satuan mm. Oya gelas ukurnya sendiri khusus, ya bukan gelas sembarangan, melainkan gelas ukur khusus curah hujan, kerena garis-garisnya sudah dalam mm, bukan cc atau ml.

Nah satuan mm sendiri bagi orang awam tidak mudah dipahami. Apa maksudnya? Bagi mahasiswa yang tidak titen (memperhatikan) pelajaran atau tidak tertarik, saya yakin banyak yang tidak paham dengan ini. Dulu saya sangat penasaran apa maksudnya ”mm“ ini,  jika dikonversi menjadi liter bisa gak? Karena dulu saya "shy shy cat" tidak berani bertanya pada dosen, akhirnya hitung-hitung sendiri dan cari informasi tentang satuan mm ini untuk dikonversi ke liter. Saat saya kuliah, mbah google belum mencapai puncak popularitasnya, sehingga saya hanya mengandalkan buku saja. Dan ternyata jawabannya bisa dan sangat sederhana.

1 mm curah hujan = 1 liter air per meter2 satuan luas

Artinya jika turun hujan misalnya 30 mm per hari, itu sama saja dengan 30 liter air yang dituang oleh gusti Allah SWT ke permukaan tanah seluas 1 m2. Jika anda punya tanah seluas 1 ha (10.000 m2) maka Tuhan yang Maha Pemurah telah menurunkan air sebanyak 30 x 10.000 = 300.000 liter pada tanah anda tersebut dalam satu hari. 

Jika truk tangki pertamina ukuran besar memuat sebanyak 32.000 liter, maka butuh hampir 10 tangki truk tersebut untuk membasahi lahan ada setara 30 mm tadi.

Jika pompa air dengan keluaran 3” mempunyai debit air rata-rata 1000 liter/menit maka untuk mendapatkan air setara 30 mm untuk lahan 1 ha maka pompa harus bekerja selama:

    300.000    =   300 menit / 5 jam full power
      1000     

Sekarang dari mana bisa diketahui bahwa 1 mm = 1 liter air per m2?

-       Berat jenis air = 1 kg/m3

-       1 m3  = 1000 mm (panjang) x 1000 mm (lebar) x 1000 mm (tinggi)

-       1 m3  = 1000 liter

-       Untuk memenuhi wadah sebesar itu, maka air yang harus diisi harus setinggi 1 m (1000 mm)

-       Setiap 1 liter air yang ditambahkan ke wadah akan mengisi permukaan wadah setinggi 1 mm, karena BJ air tadi yang 1 kg/m3. Lain lagi ceritanya jika yang diisikan adalah minyak.

-       Jadi 1 mm tinggi air = 1 liter /m2

Nah itulah asal-usul konversi dari mm curah hujan ke liter per m2. Tentang detail ombrometer sendiri silahkan anda googling saja untuk mengetahui spesifikasi dan bentuknya. Membuatnya pun mudah, yang penting ukuran diameter lubang atasnya harus tepat dan diletakkan pada tempat yang semestinya (bebas naungan pada radius 10 m, kalau tidak salah). Saya harap anda mengerti penjelasan diatas..semoga bermanfaat dan barokah.